05 September 2008

Memori Cinta

Memori saya yang pertama adalah ketika saya bangun setelah tidur siang. Saat itu saya masih SD, mungkin sekitar kelas 3 atau 4 SD. Saat itu saya baru bertengkar dengan Mama saya. Ketika saya bangun, saya keluar kamar... Dan di luar jendela, ada suara menyambar, kencang sekali. Seketika saya langsung menutup telinga dengan kedua tangan sambil menjerit memanggil Mama (memang itu yang saya katakan, hanya satu kata itu). Dan Mama saya langsung berlari naik tangga dan memeluk saya. Sayangnya saya baru menyadari besarnya cinta Mama pada saya saat saya telah duduk di bangku SMA.

Pengalaman selanjutnya baru terjadi bulan Januari tahun ini. Saat saya selesai trekking ke gunung, ternyata kaki saya terluka karena gesekan sepatu. Walaupun tidak sampai berdarah, tapi lecetnya cukup besar dan berada di empat bagian. Sewaktu pulang, Mama segera meneteskan Betadine dan meniupnya agar cepat kering. Saat ditiup itu, rasanya... Jangan dibayangkan, pokoknya sakit. Karena sakit itulah, saya mengaduh. Dan ketika Mama menatap saya, rasanya sakit di kaki seketika menghilang. Saat itu saya baru mengerti bahwa cinta bisa ditunjukkan lewat pandangan. Walaupun mungkin saya belum berpengalaman dalam hal cinta yang sering dibicarakan orang, tapi saya segera mengenali arti tatapan Mama. Itu adalah cinta yang tulus yang diberikan seorang Ibu untuk anaknya. Walaupun Mama saat itu tak tersenyum, tapi sorot matanya sudah mengatakan semuanya.

Orang kedua yang saya ingat adalah seorang bapak muda yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Saat itu saya lebih muda lagi, mungkin baru berumur lima atau enam tahun. Saat kami sekeluarga sedang jalan-jalan di mall, sewaktu turun eskalator, entah mengapa tiba-tiba saya ketakutan. Biasanya saya paling nggak pernah takut naik turun eskalator, malah bisa dibilang saya sering berlarian. Nah, karena saya berhenti mendadak, keluarga saya sudah turun terlebih dulu sampai di lantai dasar. Orang tua saya sudah memanggil-manggil, bahkan menyuruh kakak saya naik lagi untuk membantu saya turun. Tapi tetap saja saya terjebak di atas eskalator. Saat itulah, seorang bapak dengan istri dan seorang anaknya berniat turun. Sewaktu melihat saya, bapak itu - yang sedang menggandeng anaknya - memberikan tangan anaknya pada sang istri, kemudian mengajak saya bergandengan. Saat itu saya menurut dan kami pun turun eskalator. Setibanya di bawah, Mama saya berterima kasih pada orang tersebut dan bapak itu pun pergi bersama keluarganya. Walaupun saya tak mengingat wajahnya, tapi saya mengingat kebaikan seorang bapak yang belum pernah melihat saya sebelumnya.

Pengalaman terakhir saya adalah dengan seorang guru native, guru asing yang mengajar Bahasa Inggris di SMA saya. Guru tersebut sudah tua, mungkin sekitar 60-an, tapi beliau masih mengajar. Saat itu saya sedang ada masalah di sekolah, sehingga saat pelajarannya di jam terakhir kesedihan sedang menerpa saya. Terlebih lagi, sebuah kenangan saat SMP membuat saya tak bisa menaruh kepercayaan lagi pada guru. Saya benar-benar putus asa dan akhirnya berprinsip, hanya diri sendiri yang bisa diandalkan. Tanpa saya sangka, di akhir pelajaran saat semua teman sudah keluar kelas - saya memang selalu meninggalkan kelas paling akhir - guru tersebut mendekati saya dan bertanya tentang kabar saya. Dia mengatakan bahwa saya terlihat sangat sedih saat pelajaran.

Anda boleh berpikir pertanyaan itu sangat sepele dan tidak berarti. Namun bagi seorang murid yang sedang putus asa, pertanyaan itu lebih dari sekadar kata-kata dan perhatian singkat. Pertanyaan pendek itu telah merubah tahun terakhir hidup saya yang masih akan berlanjut. Kini saya belajar untuk mulai percaya lagi dengan guru dan selalu melihat sisi positif setiap kejadian. Pertanyaan itu telah menyembuhkan luka hati saya selama bertahun-tahun dalam waktu kurang dari satu menit, dengan kata-kata kurang dari dua puluh kata. Pertanyaan itu memberitahu saya bahwa masih ada orang yang bisa dipercaya, masih ada orang yang mau membantu. Kata-kata sederhana yang diucapkan guru tersebut sungguh mewakili perhatian semua guru yang saya kenal, bahkan lebih. Saya sendiri berencana menulis e-mail untuk guru tersebut agar beliau tahu betapa berartinya pertanyaan itu dan meneruskan memberikan perhatiannya yang sangat berharga - walaupun mungkin beliau juga sudah lupa pernah bertanya demikian pada saya - namun saya ingin menunggu sampai akhir kelas tiga. Walaupun saya hanya pernah diajar dua jam dalam satu minggu dalam satu tahun, tapi guru tersebut saya ingat seperti saya mengingat ayah saya.

========
Sumber: Kutipan dari Vinnie Vincent, Kini Saya Belajar Menghargai Cinta

Infogue.com

0 komentar:

cerita « WordPress.com

Koran Republika :: Dialog Jumat

BBCIndonesia.com - Laporan Mendalam

Home | About Me | Contact

Copyright © 2008 - M Shodiq Mustika

Header Image credit: adapted from Memoirs of a Geisha Wallpapers

  © 2009 True Story template by M Shodiq Mustika

Back to TOP