Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

13 Mei 2009

"Bukan Cinta Biasa": Film Komedi Yang Diam-Diam Berdakwah

Selama ini, yang dianggap dakwah adalah yang penuh dengan simbol-simbol Islam, seperti jilbab, istilah-istilah berbahasa Arab, dan sebagainya. Padahal, tanpa dipenuhi dengan simbol-simbol seperti itu pun kita masih dapat berdakwah. (Lihat "Nikah siri eh, Dakwah siri, yuk!!".) Salah satu buktinya adalah film "Bukan Cinta Biasa" yang dibintangi oleh Olivia Lubis Jensen, Ferdy 'Element' Taher, Wulan Guritno, Rocky, dan juga penyanyi yang sedang naik daun, Afgan Syah Reza.

Mau tahu gambar poster, movie trailer, klip video lagu OST (Original Soundtrack), dan berita-beritanya? Silakan klik di sini.


Baca selengkapnya...

20 Agustus 2008

Seandainya Memiliki Seratus Nyawa

Ibnu Katsir dan yang lainnya meriwayatkan, Umar bin Khathab r.a. mengutus pasukan untuk berperang melawan Romawi. Ikut serta dalam pasukan ini, seorang sahabat muda bernama Abdullah bin Khudzafah.

Perang pun berkecamuk hebat. Kehebatannya menyisakan decak kagum panglima Romawi atas keteguhan kaum Muslimin dan keberanian mereka menghadapi maut.

***

Raja Romawi memerintahkan agar pasukan Muslimin yang mereka tawan dihadapkan kepada mereka. Didatangkanlah di hadapannya, Abdullah bin Khudzafah. Ia diseret dengan tangan yang dirantai dan kaki yang diikat.


Setelah berbincang-bincang dengannya, raja kagum atas kecerdasannya. Ia berkata kepada Abdullah, “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kubebaskan.”

Abdullah menolaknya.

Raja tetap menawarinya lagi. “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberi setengah dari kekuasaanku.”

Namun Abdullah tetap tegas menolaknya.

“Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberi setengah dari kekuasaanku dan kuikutsertakan kau dalam pemerintahanku,” desak raja.

Abdullah berkata, “Demi Allah, andai saja kau berikan seluruh kekuasaanmu dan kekuasaan nenek moyangmu kepadaku, bahkan seluruh kekuasaan Arab dan Ajam (nonArab), aku tetap tak sudi untuk keluar dari Islam.”

“Kalau begitu, kamu akan kubunuh,” putus raja.

“Bunuhlah,” jawab Abdullah.

Raja memerintahkan pasukannya agar menyalib Abdullah bin Khudzafah. Lalu menyuruh pasukan pemanah untuk melepaskan anak panah ke tubuh Abdullah (hanya untuk menakut-nakuti). Saat anak-anak panah meluncur ke sekitar tubuhnya, raja tetap menawarinya masuk agama Nasrani.

Dan seperti sebelumnya, Abdullah menolak tegas. Ia lebih memilih kematian.

***

Melihat ketegaran Abdullah, raja memerintahkan agar dia dikembalikan ke penjara. Kali ini, ia tidak diberi makan dan minum. Sampai ketika Abdullah hampir mati karena haus dan lapar, mereka memberinya arak dan daging babi.

Melihat kedua hidangan itu, Abdullah berpikiran, “Demi Allah, aku tahu arak dan daging babi ini sebenarnya halal bagiku [karena dalam keadaan darurat]. Namun aku tidak ingin orang-orang kafir itu bersorak gembira karenanya.” Maka hidangan ini tidak disentuhnya.

Hal itu dilaporkan kepada sang raja. Kemudian ia menyuruh agar dihadirkan seorang wanita sexy di hadapan Abdullah.

Masuklah wanita itu ke sel Abdullah. Ia beraksi di muka Abdullah, meliuk-liukkan tubuh untuk menggodanya. Namun sedikit pun Abdullah tidak menoleh kepadanya.

Menyadari sikap Abdullah seperti itu, wanita tersebut keluar sel sambil menggerutu. Ia berkata kepada raja dan pasukannya, “Kalian telah menyuruhku menggoda seorang lelaki, yang aku tak tahu apakah ia seorang manusia ataukah seonggok batu. Demi Allah, dia tidak tahu apakah aku seorang perempuan ataukah lelaki.”

***

Sang raja putus-asa membujuk Abdullah. Ia menyuruh pasukannya membuat tungku api dan memanaskan minyak hingga mendidih. Kemudian Abdullah bin Khudzafah diberdirikan menghadap minyak yang telah mendidih itu.

Sejurus kemudian, didatangkanlah seorang muslim yang juga menjadi tawanan. Dengan kondisi badan terikat, ia diceburkan ke minyak mendidih tersebut hingga jasadnya lenyap ditelan didihan minyak. Tulang belulangnya berserakan menyembul ke atas permukaan minyak. Abdullah menyaksikan sendiri pemandangan ini.

Di saat-saat seperti itu, kembali raja menyarankan Abdullah agar murtad. Namun, ia tetap menolaknya.

Raja naik pitam dan segera memerintahkan agar Abdullah diceburkan ke tungku. Ketika ia digiring mendekati tungku dan merasakan panasnya api, air matanya meleleh. Abdullah menangis.

Raja yang mengetahui hal tersebut bergembira (mengira Abdullah takut).

“Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kubebaskan.”

“Tidak,” jawab Abdullah.

“Lalu mengapa kamu menangis?” tanya raja.

“Aku menangis karena hanya memiliki satu nyawa, sehingga aku langsung mati ketika diceburkan ke tungku ini. Demi Allah, aku ingin memiliki seratus nyawa, yang semuanya kugunakan untuk mati di jalan Allah, seperti kematian yang akan aku hadapi ini.”

Raja berkata, “Ciumlah kepalaku, kau akan kubebaskan.”

“Dan kau bebaskan pula seluruh kaum muslimin yang kau tawan,” tawar Abdullah.

“Ya,” jawab raja. Abdullah lalu mencium kepala raja. Seusai itu, sang raja membebaskan seluruh kaum Muslimin yang ditawan.

***

--Sumber: Muhammad bin Abdurrahman al-Uraifi, Hadāiq al-Mawt.

Baca selengkapnya...

Menikah dengan Bidadari

Dikisahkan bahwa musuh telah melanggar batas sebuah negeri Islam. Lalu Abu Ubaid Abdul Wahid bin Zaid, seorang khatib di Basrah, menyeru orang-orang untuk berjihad. Ia memaparkan berbagai kenikmatan di surga. Ia juga menggambarkan sifat bidadari yang ada di dalamnya.

Dialah cerahnya fajar yang tenang tapi riang

Diciptakan dari segala yang istimewa

Apakah kau tahu,

sang peminang mendengarkannya,

Duhai kekasih,

tidaklah aku lebih suka kepada selainnya

Jangan pernah kau serupai orang yang sungguh mendapatkannya

Yang melamarku dengan penuh alpa,

hingga orang-orang mengejeknya

Perbaikilah dirimu

Duhai andai ditolak darinya

Ketika piala itu diterbangkan bergilir

Lalu berakhir ketika hajatnya tuntas

seusai lari tak terkendali

Sesungguhnya yang berhasil melamarku

hanyalah orang yang berjuang terus-menerus.


Syair Abu Ubaid tersebut mampu mendongkrak semangat juang kaum muslimin untuk bersegera meraih surga melalui jihad. Seorang wanita renta pun keluar dari kerumunan menemui Abu Ubaid. Dia bernama Ummu Ibrahim al-Bashri.

Ia berkata, “Wahai Abu Ubaid, apakau engkau mengenal Ibrahim anakku? Ia telah dilamar oleh pejabat di Basrah untuk dijodohkan dengan anak perempuannya, tetapi kami tolak. Namun demi Allah, sekarang aku tertarik pada bidadari yang kau sebut tadi. Aku rela kalau bidadari itu menjadi pengantin bagi anakku. Maka ulangilah sifat-sifat yang kau ucapkan tadi agar ia pun tertarik padanya.”

Maka Abu Ubaid bertutur kembali:

Jika rembulan telah purnama di kala malam,

lihatlah keistimewaannya yang bak rembulan itu.

Senyumnya menyibak gigi yang indah,

laksana mutiara terpendam di lubuk samudera.

Andai alas kakinya menginjak kerikil,

niscaya tumbuhlah bunga darinya.

Kau bisa mengikat pinggangnya,

yang laksana dahan raihan berdaun hijau lebat.

Kalau saja ludahnya yang manis itu jatuh ke laut,

jadilah air laut itu minuman lezat bagi penduduk darat.

Allah inginkan matiku dalam kerinduan padanya,

dengan begadangnya mata

‘tuk raih kebaikan hidup sesudah mati.


Mendengar ucapan tersebut, orang-orang merasa terkesiap. Sontak mereka bertakbir.

Ummu Ibrahim beranjak bangun lalu berkata, “Wahai Abu Ubaid! Demi Allah, aku telah ridha atas bidadari itu sebagai pendamping Ibrahim. Apakah engkau mau menikahkan mereka sekarang juga, dengan mengambil dariku sepuluh ribu dinar sebagai maharnya? Semoga Allah menjadikannya pahlawan yang mati syahid, sehingga mampu memberi syafaat bagiku dan bapaknya di hari kiamat.”

Abu Ubaid berkata, “Baiklah. Aku bersedia. Semoga kalian berdua mendapat keberuntungan yang besar.”

Sang ibu berteriak, “Hai Ibrahim.. hai Ibrahim...”

Lalu seorang pemuda tampan berkelebat keluar dari kerumunan orang sambil berkata, “Baiklah, Ibu. Baiklah, Ibu.”

“Wahai anakku! Apakah kamu rela bidadari [yang sifatnya disebut] tadi sebagai istrimu, dengan jantungmu yang kau korbankan di jalan Allah sebagai maharnya?” tanya sang ibu.

“Baiklah, Ibu. Aku bersedia,” jawab Ibrahim.

***

Wanita itu bergegas menuju rumahnya guna mengambil uang sepuluh ribu dinar. Kemudian uang ini dibawanya ke tempat Abu Ubaid.

Di tempat ini, ia menengadah ke langit. Ia berdoa, “Ya Allah, saksikanlah! Kunikahkan anakku dengan bidadari. Sebagai maharnya, akan ia korbankan jantungnya dalam perang di jalan-Mu. Maka terimalah ini wahai Zat Yang Paling Pengasih.”

Kemudian kepada Abu Ubaid, ia berkata, “Sepuluh ribu ini dinar ini adalah mahar bagi bidadari itu. Berbekallah dengannya dalam berperang di jalan Allah.”

***

Lalu wanita itu pergi membeli kuda dan alat perang yang bagus dan bekal untuk perjalanan beberapa hari. Ketika hendak berpisah dengan anaknya, wanita itu mengalungkan kafan dan memberikan minyak—yang biasa ditaburkan ke tubuh jenazah—kepada anaknya. Ia menatap anaknya, seolah jantungnya membuncah keluar dari dalam dada.

Ia berpesan, “Kalau kamu bertemu dengan musuh, pakailah kain kafan ini dan taburkan minyak ini ke tubuhmu. Jangan sampai Allah melihatmu lalai di jalan-Nya.”

Ia mendekap anaknya. Ia memeluk dan menciumnya. Lalu ia berkata, “Pergilah, anakku. Allah takkan lagi mempertemukanku denganmu, kecuali kelak di hadapan-nya pada hari kiamat.”

Pergilah Ibrahim bersama pasukan. Pandangan sang ibu mengikutinya sampai dia tak lagi terlihat.

***

Ketika pasukan telah sampai di negeri musuh dan masing-masing telah siap tempur, dimulailah peperangan. Anak panah pun beterbangan mengiringi para pahlawan yang sedang berlaga. Ibrahim maju ke barisan terdepan.

Ibrahim berhasil menyusup ke barisan musuh. Ia berhasil membunuh lebih dari tigapuluh orang tentara musuh.

Musuh menyadari kekuatan Ibrahim ini. Mereka segera mengepungnya. Ada yang menombaknya, memukul, dan menerjangnya.

Ibrahim terus tegar mengerahkan perlawanan, sampai staminanya menurun. Ia pun terjatuh dari kudanya dan segera dihabisi lawan.

Akan tetapi, pertempuran itu berakhir dengan kemenangan kaum muslimin. Mereka berhasil memukul mundur musuh. Mereka pun pulang kembali ke Basrah.

***

Sesampainya di Basrah, para penduduk keluar menyambut mereka. Ummu Ibrahim ada di kerumunan itu. Ia menatap tajam ke setiap personil pasukan. Sewaktu melihat Abu Ubaid, ia menghampirinya.

Ia bertanya, “Wahai Abu Ubaid! Apakah Allah menerima hadiahku, sehingga aku bahagia? Ataukah Ia mengembalikannya, sehingga aku kecewa?”

Abu Ubaid menjawab, “Allah menerima hadiahmu. Aku berdoa semoga sekarang anakmu tinggal bersama para syuhada yang dirahmati.”

Seketika itu, Ummu Ibrahim berteriak kegirangan. “Alhamdulillaah. Allah mengabulkan keinginanku dan menerima pengabdianku.”

Dengan riang gembira, ia berlari pulang ke rumah—yang kini ia tinggali sendirian sesudah berpisah dengan anaknya. Ia menciumi kasur Ibrahim dan mendekap bajunya, hingga tertidur.

***

Keesokan harinya, Ummu Ibrahim bergegas menuju majlis Abu Ubaid. Sesampainya di sana, ia berkata, “Wahai Abu Ubaid! Bergembiralah, bergembiralah!”

“Engkau tak henti-hentinya bersuka-cita, hai Ummu Ibrahim. Apa yang terjadi?” tanya Abu Ubaid.

Wanita itu pun menjawab, “Semalam [dalam tidurku] aku melihat anakku telah berada di dalam taman yang indah. Di atasnya ada kubah hijau. Ia berbaring di atas kasur yang terbuat dari mutiara. Di atas kepalanya ada mahkota yang berkilauan. Ia berkata kepadaku, ‘Wahai Ibu, bergembiralah. Maharku telah diterima, dan pengantin pun telah bersanding’.”

*******

Sumber: Muhammad bin Abdurrahman al-Uraifi, Hadāiq al-Mawti (Parit Kematian).

Baca selengkapnya...

19 Agustus 2008

Serdadu berlutut, Lawan pun takluk

Kisah ini terjadi pada tahun pertama pendudukan Amerika Serikat (A.S.) di Irak pada beberapa tahun yang lalu. Pada suatu hari Jumat, ratusan penduduk sipil Irak pergi ke masjid untuk bersembahyang. Para serdadu Amerika yang tidak memahami praktik-praktik agama Islam, menghentikan mereka di tengah jalan, yang langsung memicu reaksi keras. Kedua belah pihak ketakutan.

Mula-mula, sebagai upaya menakut-nakuti orang-orang Irak itu, para serdadu A.S. melepaskan tembakan ke atas. Akan tetapi, hal ini tidak mendinginkan suasana. Kedua belah pihak justru menjadi tegang. Namun kemudian, perwira A.S. yang bertugas membuat sebuah keputusan yang luar biasa, setelah ia menyadari bahwa orang-orang Irak ini hanyalah penduduk biasa yang sedang dalam perjalanan untuk bersembahyang, dan bukannya orang-orang yang membahayakan mereka.

Perwira ini memerintahkan para serdadunya untuk berlutut dan mengambil sikap seperti orang yang sedang bersembahyang. Ketegangan segera mengendur ketika para penduduk sipil melihat tindakan ini, tindakan yang berbicara dalam bahasa yang lebih kuat daripada kata-kata [atau pun tembakan]. Tindakan itu adalah eskpresi dari simpati dan kepedulian manusia.

Kisah itu menunjukkan bahwa kepedulian dan kasih dikenali dengan segera sebagai alat komunikasi antarmanusia meskipun dalam keadaan yang keras.

--Sumber: (maaf, aku lupa dari mana aku mengambilnya; kalau kau tahu, beritahu dong!)

Baca selengkapnya...

cerita « WordPress.com

Koran Republika :: Dialog Jumat

BBCIndonesia.com - Laporan Mendalam

Home | About Me | Contact

Copyright © 2008 - M Shodiq Mustika

Header Image credit: adapted from Memoirs of a Geisha Wallpapers

  © 2009 True Story template by M Shodiq Mustika

Back to TOP