Tampilkan postingan dengan label karir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karir. Tampilkan semua postingan

06 September 2008

Hidup Tanpa Ijazah

Ajip Rosidi lahir di Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, pada 31 Januari 1938. Menempuh pendidikan hanya sampai setingkat SMA yaitu di Taman Madya, Taman Siswa Jakarta. Itu pun tidak tamat. Tahun 1956 dia dengan sengaja keluar dari sekolahnya seminggu sebelum ujian akhir dimulai. Pendidikan formalnya berakhir 52 tahun yang lalu. Tetapi, ia tidak pernah berhenti belajar. Pendidikan dan belajar tak harus di satu tempat. Pendidikan harus di sekolah, belajar bisa di mana saja.

Saat Ajip mau menempuh ujian nasional, ramai terjadi kebocoran soal-soal ujian, orang tak segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membeli soal ujian, guru-guru pun bisa disogok. Di koran-koran timbul polemic tentang manfaat ujian. Dengan mempertanyakan keabsahan ujian untuk menilai prestasi murid yang sebenarnya, Ajip muda (16 tahun) berkesimpulan:

Orang tidak segan melakukan perbuatan hina, membeli soal ujian atau menyogok guru, demi lulus ujian. Untuk apa lulus ujian? Untuk dapat ijazah. Untuk apa ijazah? Untuk melamar kerja. Untuk apa kerja? Untuk dapat hidup. Kalau begitu, hidup berarti bergantung kepada secarik kertas bernama ijazah ! Ajip terkejut sendiri dengan kesimpulannya. Ia saat itu telah empat tahun berkarya (Ajip mulai mengirimkan tulisan2 cerita dan puisi dan dimuat di koran2 dan majalah2 sejak tahun 1952 saat umurnya masih 14 tahun) dan telah merasa bisa hidup cukup mandiri dengan honorariumnya. Ajip bertanya, "Apakah seorang pengarang membutuhkan ijazah untuk bisa hidup?" Tidak, jawabnya.

Ajip memutuskan bahwa hidupnya tidak akan digantungkan kepada selembar ijazah. Prestasinya tidak akan bergantung kepada selembar ijazah. Menurutnya tak ada sekolah atau universitas yang dapat menuntunnya menjadi seorang pengarang yang baik, apalagi ia punya pengalaman bahwa guru2 bahasa Indonesianya semasa di SMP dan SMA harus lebih banyak membaca daripada dirinya.

“Aku akan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuanku dalam bidang sastra dan penulisan dengan banyak membaca. Dan membaca tidak usah di sekolah. Tidak usah juga bersekolah tinggi karena aku sudah mengenal huruf-huruf. Buku-buku dapat dibeli, atau dipinjam dari perpustakaan. Dalam membaca aku dapat melampaui kebanyakan orang yang punya ijazah lebar. Dengan kian luasnya bacaanku, maka tulisanku akan lebih berbobot. Kalau tulisanku berbobot, niscaya orang-orang akan menghargaiku sebagai pengarang. Akhirnya yang penting dalam hidup adalah prestasi yang diakui oleh masyarakat. Berapa banyak orang yang mempunyai ijazah tinggi dan menduduki jabatan penting dalam masyarakat tetapi tidak pernah memperlihatkan prestasi pribadi ? Mereka akan lenyap dari ingatan masyarakat kalau mereka sudah pensiun atau setelah meninggal. Aku ingin tetap dikenang orang walaupun aku sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Dan hal itu hanya dapat dicapai dengan berkerja keras, dengan mencipta karya yang bagus. Orang akan tetap mengingat namaku kalau karya-karya yang kutulis bermutu,” tutur Ajip Rosidi.

Dan, keluarlah Ajip dari sekolah alias drop out. Dia menulis surat kepada gurunya di atas kartu pos, “saya tidak jadi ikut ujian nasional karena saya akan membuktikan bahwa saya dapat hidup tanpa ijazah” Luar biasa keputusan anak remaja ini, keputusan sendiri, tanpa memberi tahu orang tuanya di Jatiwangi.

Dan puluhan tahun berikutnya adalah puluhan tahun pembuktian bahwa Ajip bisa hidup tanpa ijazah. Sebuah bakat yang ditekuni secara luar biasa akan berhasil luar biasa juga. Setahun sebelum ia keluar dari SMA, buku pertamanya telah terbit ketika umurnya masih 17 tahun, berjudul “Tahun-Tahun Kematian” (kumpulan cerpen). Itu adalah buku pertama yang mengawali sebanyak lebih dari 110 judul buku berikutnya selama puluhan tahun kemudian. Ajip menulis buku-buku baik kumpulan cerpen, kumpulan puisi, roman, drama, penulisan kembali cerita rakyat, cerita wayang, bacaan anak-anak, kumpulan humor, esai dan kritik, polemik, memoar, bunga rampai, buku terjemahan, biografi (ada 10 halaman daftar lengkap karya Ajip di buku otobiografi ini). Ajip menulis baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia. Banyak karyanya diterjemahkan oleh penerbit internasional ke dalam bahasa-bahasa asing Belanda, Cina, Hindi, Inggris, Jepang, Jerman, Kroasia, Prancis, Rusia, Thai, dan lain-lain.

Sepak terjang Ajip tak hanya dalam dunia penulisan sastra dan sekitarnya. Ia adalah redaktur dan Pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955) saat Ajip masih duduk di SMP dan SMA. Juga ia menjadi pemimpin redaksi Majalah Sunda (1965-1967), Budaya Jaya (1968-1979), dan Cupumanik (sejak 2005).

Ajip juga adalah redaktur, pendiri dan pemimpin usaha2 penerbitan. Ia adalah seorang redaktur Balai Pustaka (1955-1956). Tahun 1962 mendirikan Penerbit Kiwari, tahun 1964-1969 mendirikan dan memimpin Penerbit Tjupumanik di Jatiwangi. Tahun 1971 mendirikan Penerbit Pustaka Jaya dan menjadi pemimpinnya. Tahun 1981 mendirikan Penerbit Girimukti Pusaka, Tahun 2000 ia mendirikan dan memimpin Penerbit Kiblat Buku Utama di Bandung. Usaha penerbitannya ada yang terus berjalan sampai Sekarang (Pustaka Jaya), ada juga yang telah lama berhenti.

Ajip juga sangat giat dalam berorganisasi, misalnya tahun 1954 (umur 16 tahun) menjadi anggota Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional. Tahun 1956 menjadi anggota Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda. Tahun 1972-1981 menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (dewan ini juga dibentuk pada tahun 1968 atas prakarsa Ajip. Tahun 1973-1979 sebagai ketua Ikatan Penerbit Indonesia(IKAPI). Tahun 1993 Ajip mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancage, sebuah yayasan yang mengapresiasi karya-karya sastra daerah dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali.

Ajip juga menduduki banyak anggota badan-badan kehormatan. Tahun 1960-1962 dia adalah anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan bidang Sastra dan Sejarah. Tahun 1978-1980 sebagai staf ahli menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1979-1982 menjadi anggota Dewan Fim Nasional, tahun 1979-1980 menjadi anggota Dewan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional. Tahun 2002 diangkat menjadi anggota Akademi Jakarta.

Meskipun Ajip tak menamatkan SMA-nya, tak pernah kuliah, bukan sarjana, tentu bukan master, apalagi doktor, tahun 1967 ia diangkat sebagai dosen luar biasa pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran di Bandung. Ajip pun sering diundang memberikan kuliah umum di berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dan, tahun 1981, Ajip diangkat sebagai Visiting Professor pada Osaka Gaikokugo Daigaku di Osaka, Jepang. Ajip mengajar di Jepang sampai tahun 2003. Ajip pun diangkat sebagai Gurubesar Luar Biasa pada tahun 1983-1994 di Tenri Daigaku di Tenri, Nara, Jepang. Tahun 1983-1996 menjadi Gurubesar Luar Biasa pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto. Pensiun sebagai guru besar, Ajip pulang ke Indonesia pada tahun 2003.

=======
Sumber: Panji Mas, Februari 2003.

Infogue.com

Baca selengkapnya...

20 Agustus 2008

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Marilah kita simak pengalaman romantis Mamduh Hasan, seorang putra bangsawan Mesir kaya-raya, yang jatuh hati kepada seorang gadis dari kalangan rakyat jelata. Mirip dongeng Cinderalla? Tidak. Bedanya jauh! Untuk jelasnya, mari kita simak kisahnya, sebagaimana yang termaktub di buku Habiburrahman El Shirazy, Di Atas Sajadah Cinta (hlm. 40-53):

Di [tempat] kuliah [fakultas kedokteran], saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan akhlaknya. Dari keteduhan wajahnya, saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan.

Akhirnya, kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saatnya untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.

Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan langsung membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan, beliau mengultimatum: pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya! Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup, rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Apakah Anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu adalah tukang cukur...tukang cukur, ya sekali lagi...tukang cukur!

Saya katakan [pekerjaannya itu] dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik pada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya, ia lahirkan tiga orang dokter, seorang insinyur, dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara, dan semua keluarga berpihak pada ayah. Saya berdiri sendiri, tak ada yang membela. ... Dan dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran, saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya.

Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliau pun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Bahkan, juga bersumpah tidak akan merestui hal itu selamanya, demi kehormatan keluarganya. Dia tidak rela keluarganya menjadi bahan ejekan dan hinaan kalangan “Pasha”.

Namun putrinya bersikeras ingin menikah dengan saya dan tidak akan menikah kecuali dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras. Beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung. Jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial, sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan. Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang airmata, beratap, dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari, saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma‘dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai tiga orang sahabat karib saya. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syar’i mengikuti madzhab Imam Hanafi.

Ketika ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunnatullah wa rasulihi dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai madzhab Imam Abu Hanifah,” seketika itu bercucuranlah airmata saya, airmata dia, dan airmata ketiga sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah ini.

Kami keluar dari kantor itu resmi sebagai suami-istri yang sah di mata Allah Swt. dan manusia. Kami punya legalitas sebagai suami-istri yang diakui negara dan diakui syariat. Kami telah bertekad siap menghadapi kemungkinan hidup ini murni dengan kekuatan kami, tanpa sandaran dan dukungan siapa pun, kecuali pertolongan Allah Swt. Saya bisikkan dalam telinga istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir. Akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium [kabar] pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita.

Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak hanya empat pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun. Begitu pula dengan istri saya. Ia pun diusir oleh keluarga saya. Lebih tragis, ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak dua pound, tak lebih. Total kami hanya pegang uang enam pound atau dua dolar. Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan enam pound.

Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil. Rasa cemas, takut, sedih, dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang, rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami....

Malam semakin larut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa.

Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar itu pun datang jua.

Dengan sisa uang enam pound itu, kami bisa meminjam telpon di sebuah toko dua puluh empat jam. Saya berhasil menghubungi seorang teman yang bisa memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami dengan mobilnya mencarikan lokandat (losmen) ala kadarnya yang murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segeralah kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah. Kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang, dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah Swt.

Kami hidup dalam lokandat itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah.

Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan, rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami. Namun, bagi kami, ini adalah hadiah dari langit.

Apa pun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh, ia bagai mendapatkan hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi, sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk tiga bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah ke sana. Lalu kami membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi, dan satu kompor gas sederhana sekali, dan dua cangkir dari tanah, itu saja tak lebih....

Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya. Istri saya jadi rajin membaca Al-Quran, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam, ia menjelma menjadi putri raja yang cantik menggairahkan. Di akhir malam, ia menjelma menjadi Rabiah Adawiyah yang larut dalam samudera munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang, dia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan...

Tetangga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kami pun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai, ada yang bilang tanpa disengaja, “Ah, kami kita para dokter itu pasti kaya semua. Ternyata ada juga ya yang melarat sengsara seperti Mamduh dan istrinya.”

Akrabnya persaudaraan kami dengan para tentangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawari istri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka. Karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dapur. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan itu. Kehangatan tetangga itu seolah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami....

Beberapa bulan setelah itu, datanglah saatnya masa wajib militer. Selama satu tahun penuh, saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang sangat saya takutkan. Tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima, kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai.

Nyaris selama satu tahun, saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan istri tersinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami. Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Istri saya hidup selamat, bahkan dia mendapat kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi, selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu pada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya.

Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia dan lepas dari belenggu derita.... Yah, saya pun memimpikan yang demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu pada istri tercinta.

Namun, dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersikeras untuk masuk program magister bersama. Gila! Ide gila! Pikir saya saat itu.

Bagaimana tidak. Ini adalah saat yang paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tak berperasaan. Tetapi istri saya malah berpikir untuk meraih magister.

Saya bujuk dia untuk mengurungkan niatnya. Tapi dia tetap bersikukuh untuk meraih magister, dan menjawab dengan logika yang tak kuasa saya tolak:

“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan dan mendapat tawaran dari fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya. Kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita. Kenapa tidak sekalian kita teguk sumsum penderitaan ini, kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.”

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad membaja istri saya, hati saya pun luruh. Saya penuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk program magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll.

Nyaris kami hidup laksana kaum sufi. Makan hanya dengan roti isy dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam-malam kami lalui bersama dengan perut lapar. Teman setia kami adalah air kran.

Ya, air kran. Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama pada suatu malam sampai didera rasa lapar tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi, kami malah muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk beli pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya, kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikit pun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menangis, sedih, atau pun marah karena suatu sebab.

Kalau pun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasinya, tetapi dia lebih merasa kasihan pada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah dengan selera high class tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Dan sebaliknya, saya pun merasa kasihan melihat keadaan dia. Dia yang asalnya hidup nyaman dan makmur dengan keluarganya harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternyata menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, penghormatan, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya mengangkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Saya tatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya itu. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku, dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas.

Jika sudah demikian, penderitaan ini terlupakan semua. Rasanya, kamilah orang yang paling berbahagia di dunia. “Allah menyertai orang-orang yang sabar, Sayang,” bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang. Usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar magister dengan waktu yang tercepat di Mesir. Hanya dua tahun saja.

Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih magister pun, kami masih mengecap hidup susah, tidur di atas kasur tipis, dan tak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya, rahmat Allah datang jua.

Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah lima tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah. Kami rasakan kembali tidur di atas kasur empuk. Kami kenal kembali makanan lezat setelah kami tinggal sekian tahun.

Dua tahun setelah itu, kami pun dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Cairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istri saya memang “edan”. Ia kembali mengelurkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan [studi ke] program doktor spesialis di London, juga dengan logika yang susah saya tolak:

“Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil [program] doktor di London. Setelah bertahun-tahun kita hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyiapkan dana tambahan.”

Saya cium kening istri saya. Bismillah kita ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar doktor dari London. Saya spesialis syaraf, dan istri saya spesialis jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan, saya diangkat sebagai dokter ahli sekaligus direktur rumah sakitnya, dan istri saya sebagai wakilnya. Kami juga mengajar di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemani saya dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan-kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami kembali ke Cairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Kami kembali laksana seorang raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia.

Kini kami hidup bahagia, penuh cinta, dan kedamaian setelah lebih dari sembilan tahun hidup menderita, melarat, dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami pada Allah Swt. dan bertambahlah rasa cinta kami. Ini cerita nyata yang ingin saya sampaikan sebagai nasihat hidup.

Baca selengkapnya...

19 Agustus 2008

Ubah Penjara Menjadi Hotel

Lapas Klas II A Wanita Malang benar-benar menjadi hotel prodeo bagi penghuninya. Dari tangan dingin Entin Martini, lingkungan penjara tersebut disulap menjadi penjara yang nyaman dan asri layaknya penginapan. Lapas itu pun memperoleh penghargaan sebagai Lapas Wanita Terbaik se-Indonesia. Tidak hanya itu, sejak 29 Februari 2008, di lapas tersebut telah dicanangkan ISO (International Standardization for Organization) 9001:2000 tentang pelayanan. Kini lapas itu menjadi satu-satunya lapas di Indonesia yang bakal menerima penghargaan bergengsi tersebut.

Berikut bincang-bincang wartawan Jawa Pos Maya Apriliani dengan Entin Martini.

Apa gambaran Anda kali pertama terhadap Lapas Klas II A Wanita Malang?

Gambaran saya tentang Lapas Wanita Malang sebelum masuk ke sini ya lingkungannya asri, nyaman, dan bersih. Pokoknya, lingkungan yang mencerminkan tempat tinggal wanita. Tapi, begitu masuk, gambaran itu belum semua terlihat. Masih ada kesan lingkungan yang kurang familiar, kurang bersahabat.

Setelah mendapati kenyataan seperti itu, apa yang Anda perbuat?

Sebagai tahap awal, saya beradaptasi dengan lingkungan lebih dahulu. Selama dua minggu proses itu saya jalani. Mengenal keadaan lingkungan penjara mulai depan hingga belakang sebelum melakukan pembenahan. Saya ikut kegiatan olahraga, sering kontrol ke blok, satu hari bisa dua sampai tiga kali saya keliling blok. Saya berusaha untuk bisa menempatkan diri bukan sebagai pimpinan, tapi tamu. Apalagi saya [kelahiran Ciamis, 1954] kan bukan orang Jawa Timur. Jadi, saya harus paham dulu karakter petugas dan warga binaan (penghuni lapas, Red) di sini. [Sebelumnya, Entin berkarir di Jakarta dan Bandung.]

Berhasilkah pendekatan yang Anda lakukan?

Saya kira cukup berhasil. Sekarang mereka bisa menerima saya. Kami kerja sama membenahi lingkungan agar lebih bersahabat, bersih, dan nyaman. Selain itu, kami melengkapi fasilitas pelayanan pembinaan bagi warga. Sekarang di lapas kami sudah ada pencanangan ISO 9001:2000 tentang pelayanan.

Apa motivasi Anda melakukan semua itu?

Saya menjadi Kalapas [mulai Juli 2007] saat berusia di atas 50 tahun. Saya berkeinginan untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik. Apa yang dapat saya buat itu menjadi motivasi penting. Dengan bermodal disiplin, saya mulai membenahi lingkungan.

Pembenahan seperti apa?

Saya mulai membiasakan apel pagi untuk petugas. Semua warga binaan juga dibiasakan untuk bekerja sebagai salah satu wujud pembinaan. Saya katakan kepada mereka jangan enak-enakan saja di dalam penjara. Toh, mereka telah mendapat fasilitas dari pemerintah. Petugas memperoleh gaji dan uang tunjangan, penghuni pun mendapat jatah makan, uang kesehatan, dan fasilitas lain. Karena itu, mereka harus mau bekerja. Banyak yang bisa mereka kerjakan di sini melalui program pembinaan keterampilan bagi warga. Mulai membatik, menjahit, menyulam, membuat kecap, berkebun, atau ikut pendidikan kejar paket A, B, dan C.

Kalau ada warga binaan yang tidak mau bekerja bagaimana?

Bagi warga binaan yang tidak mengikuti kegiatan keterampilan, mereka bisa mengerjakan hal lain. Bersih-bersih lingkungan, misalnya. Atau, mengelap daun bunga. Daun itu bisa mengilap [nyaris tak berdebu] karena tiap hari dilap warga binaan.

Pembenahan lingkungan juga Anda lakukan?

Tentu saja karena sejak awal saya ingin membenahi lingkungan lapas. Dua ruang yang tidak dimanfaatkan difungsikan sebagai ruang bacaan. Blok hunian dicat warna-warni supaya kesan seram penjara bisa hilang. Tiap-tiap blok diberi taman. Saya juga membuat gazebo untuk kegiatan membatik warga binaan. Taman dan jembatan di depan blok penjara juga dibuat. Yang membuat taman dan jembatan itu napi laki-laki dari Lapas Lowokwaru dan warga binaan di sini. Ruang makan bersama untuk warga binaan juga tersedia walau sederhana. Saya ingin warga binaan bisa menikmati makanan di meja makan, seperti layaknya di rumah makan. Ya, saya memang ingin suasana penjara benar-benar asri, bersih, dan nyaman seperti suasana di hotel.

Kenapa harus seperti hotel?

Dulu, setelah lulus SMA pada 1972, cita-cita saya masuk sekolah perhotelan karena saya suka keindahan. Tapi, cita-cita itu tidak kesampaian. Orangtua melarang saya masuk sekoklah perhotelan. Alasannya, image sekolah itu kurang bagus. Waktu itu hal-hal yang berhubungan dengan hotel identik dengan pulang malam.... (Jawa Pos, 4 Mei 2008)

Baca selengkapnya...

Tulang mau patah, tapi terus berkarir di level internasional

Umur Gita Rusminda masih muda, baru 26 tahun. Tapi, putri bungsu Dr Sjahrir, ekonom yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden, ini terkena penyakit langka. Setiap hari, dia merasa tulang-tulangnya nyeri, bahkan seperti mau patah. Meski demikian, penyakit itu tidak membuat dirinya menyerah untuk terus berkarir di level internasional.

“Saya sebenarnya sedang sakit. Sekujur tubuh ini sakit luar biasa,” katanya. Ketika dia berkata seperti itu, Jawa Pos awalnya tidak percaya. Sebab, dia tidak terlihat merintih. Wajahnya pun tidak mencerminkan sedang meringis kesakitan. Bahkan, ketika mengambil minuman, gadis 26 tahun itu berjalan cepat. “Saya sudah terbiasa menahan sakit seperti ini,” ujarnya.

Wanita kelahiran Boston 5 Oktober 1981 itu saat ini menjabat regional manager AES (Alternative Energy Source) untuk wilayah Asia dan Timur Tengah. Terkait dengan tugasnya itu, dia lebih banyak melakukan perjalanan ke beberapa negara.

“Aku sudah di Amerika sejak lahir,” ujarnya, memulai bercerita.

Saat kecil, Gita bersekolah di Cambridge Massachusetts. Dia pernah ikut pulang ke Indonesia bersama sang ayah selama tiga tahun. Ketika itu, dia bersekolah di SMP Tarakanita, Jakarta. Menjelang naik kelas III SMP, Gita kembali melanjutkan sekolah ke Amerika. Di sana, dia masuk preparatory school selama empat tahun hingga lulus high school (SMA).

Ketika kembali ke Amerika itu, Gita menyewa apartemen kecil di Andover. “Sejak itu, aku harus tinggal sendirian,” ceritanya.

Seperti halnya mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika, Gita juga melakukan pekerjaan sampingan (part time) untuk menambah uang makan. Beberapa pekerjaan pernah dia jalani, antara lain menjadi asisten profesor hingga menjadi baby sitter.

Lulus high school, Gita melanjutkan kuliah di Universitas Chicago. Jurusannya Political Science dan lulus pada awal 2004. Namun, tiga bulan setelah kelulusannya itu, petaka datang. Saat itu, ketika bangun tidur, Gita tiba-tiba tidak bisa menggerakkan anggota badannya. Setiap kali ingin bergerak, dia merasakan sakit yang luar biasa. Ketika dia paksakan untuk bergerak, dia pun pingsan. “Aku nggak tahu. Katanya, saat itu pingsan sehari. Rasanya sakit sekali. Tubuhku demam sampai 104 Fahrenheit [atau 40 Celsius]. Paru-paruku juga gagal. Ketika sadar, aku sudah di rumah sakit dengan beberapa tabung oksigen di sekelilingku,” paparnya.

Selama dua bulan di RS, dokter yang merawat tak tahu penyakit Gita. “Menurutku, saat itu mereka tidak tahu apa yang terjadi padaku. Karena penyakitnya memang langka, tidak semua orang tahu. Di Amerika atau Singapura saja, mungkin cuma segelintir yang kena,” tuturnya.

Gita menduga, mungkin di Indonesia ada juga beberapa orang yang terkena penyakit yang diketahui bernama Still’s Disease itu.

Dalam diagnosis dokter, kata Gita, sel-sel darah putihnya kehilangan kemampuan untuk membedakan antara sel-sel tubuh yang sehat dan bakteri atau virus yang merusak tubuh. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh penderita penyakit ini justri menyerang jaringan tubuh yang sehat dan menyebabkan peradangan serta nyeri sendi.

Hampir tiga bulan, Gita tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya di rumah sakit tersebut. Kehidupannya sangat tergantung orang lain. Bahkan, untuk mandi sekalipun, dia harus meminta tolong seseorang. Berbagai pengobatan dia jalani. “Obat-obatnya sih sama dengan obat penyakit Lupus, cuma ini lebih berat. Karena kalau capek, aku langsung pingsan,” tambahnya.

Setelah masa tiga bulan lewat, Gita mulai belajar berjalan. Meski tulang-tulangnya terasa remuk, Gita bertekad kuat untuk bisa kembali berjalan seperti semula. Saat itu, untuk berjalan dalam jarak lima meter saja, Gita harus melakukannya dalam lima menit. Sangat pelan. “Rasanya seperti berjalan dengan seluruh tulang yang sudah patah. Sungguh sangat menyakitkan, tapi saya harus tetap berusaha,” ucapnya, tegar.

Akhirnya, Gita baru bisa berjalan tegap pada bulan kedelapan. Sejak saat itu, dia tinggal di apartemennya untuk memulihkan kesehatannya. Dokter menyarankan agar Gita tidak bekerja dulu agar cepat pulih. Sejak saat itu pekerjaan Gita hanya membaca dan menonton TV untuk mengusir kebosanan. Namun, dia merasa tidak betah hidup seperti itu terus-menerus. “Aku sebenarnya nggak kuat kalau hanya diam seperti itu,” tuturnya.

Meski telah menjalani pengobatan hampir setahun, penyakit Gita tidak lantas hilang. Rasa sakit seperti rematik di persendiannya itu berlangsung setiap hari, hingga saat ini. Tapi, Gita harus mengabaikan rasa sakit itu karena tidak ingin dikasihani orang lain. “Kalau Anda pernah patah tulang, seperti itulah rasanya setiap hari. Kalau rating sakit 10, mungkin di hari biasa skornya cuma 3-4 saja. Kalau 10, aku langsung masuk rumah sakit. Setiap hari seperti itu, sekarang juga,” jelasnya.

Meski dokter memvonis penyakitnya tidak bisa disembuhkan, Gita Rusminda tidak putus asa. Gadis 26 tahun putri ekonom Dr Sjahrir itu tetap bersemangat melanjutkan hidup, pekerjaan seberat apa pun dia lakoni. Dia juga berencana menikah dalam waktu dekat.

Meski menderita Still’s disease—sejenis penyakit rematik yang tergolong langka sejak empat tahun lalu—Gita tidak ingin memperlihatkannya kepada orang lain.

Tatkala berbincang dengan Jawa Pos, Gita mengungkapkan, sesungguhnya dirinya merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuh. Tulang-tulangnya seperti patah. “Tapi, aku sudah biasa menahan sakit ini,” ujarnya, enteng.

Gita menceritakan, setiap hari, setelah terkena penyakit itu, dia berlatih menggerakkan anggota badannya. Upaya ini membuat kondisi tubuhnya semakin kuat. “Awalnya, saya latihan jalan di sekitar apartemen. Lama-lama meningkat mengitari blok. Tanpa saya duga, saya akhirnya mampu berlari,” tuturnya. “Jadi, berlari sambil merasakan sakit,” imbuhnya, tertawa lepas.

Dokter di Amerika terkejut ketika mengetahui perkembangan Gita. “Wow. Tidak ada seorang pun yang seperti kamu. Sungguh ini suatu mukjizat,” ujar gadis yang saat ini bekerja di kantor perwakilan AES di Singapura tersebut, menirukan dokternya.

Menurut Gita, kemajuan yang dia peroleh menyangkut kondisi tubuhnya terjadi berkat semangat hidup. “Jika tidak memiliki semangat, seorang penderita Still’s disease pasti akan malas-malasan bergerak melawan sakit di dalam tubuhnya,” katanya.

Menyadari kondisi fisiknya yang semakin kuat, keinginan Gita berkembang. Dia tidak ingin hari-harinya habis di apartemennya di Andover, Amerika. Gita lantas berniat mencari pekerjaan untuk melanjutkan hidupnya. Selanjutnya, Gita melamar ke sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembangkit listrik, yaitu AES. Singkat cerita, dia diterima karena telah memenuhi semua persyaratan.

AES lantas menugasi Gita ke kantor cabang di Singapura. Di sana, dia menangani pembangunan pembangkit listrik tenaga alternatif di wilayah Asia dan Timur Tengah. Tiba di Singapura 17 Agustus 2005, awalnya Gita diberi tugas di bagian business development. Dia harus menjelaskan kepada klien tentang potensi pembangunan pembangkita listrik tenaga alternatif, salah satunya geotermal (pembangkit listrik tenaga panas bumi).

Meski pendidikannya ilmu politik, Gita mengaku tidak kesulitan menjalankan pekerjaan itu. Sebab, selama kuliah di Universitas Chicago, dia mengambil kurikulum tambahan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain. “Seperti ilmu pengetahuan alam, sosial, biologi, mereka mengajari aku apa saja. Jadi lebih fleksibel dan bisa melakukan pekerjaan apa pun. Pekerjaan harus dipelajari saat itu, bukan di sekolah,” tambah gadis yang mengaku tidak suka difoto tersebut.

Semangat hidup kembali berkobar di hati Gita ketika memulai pekerjaan di Singapura. Dia tidak ingin menyerah. Meski setiap hari, setiap menit, dan setiap detik seluruh bagian tubuhnya bagai ditusuk-tusuk. Dia merasakan nyeri dan linu yang luar biasa.

“Aku sampai nggak bisa mengatakan yang mana-mana. Pokoknya di seluruh tubuhku. Aku menjadi terbiasa dengan rasa sakit ini, so it’s okay,” ungkapnya cuek.

Etos kerja yang tinggi, ditambah semangat untuk hidup, membuat Gita seolah lupa memikirkan penyakitnya. Siang-malam dia bekerja, terkadang harus pulang pukul 2 pagi, lantas bangun jam 5 pagi, lari-lari di sekitar apartemen, kemudian baru berangkat kerja lagi. Begitulah kegiatannya setiap hari di Singapura. “Ya kalau ada pekerjaan yang mesti diselesaikan sekarang, maka harus selesai sekarang. Apalagi kalau ada deadline-nya,” cetusnya.

Lantaran begitu asyik bekerja, Gita tidak menyadari bahwa tubuhnya butuh istirahat. Dia lupa ada penyakit ganas yang siap menyerang tubuhnya jika sedang capek. Beberapa kali, ketika sedang berada di kantor, Gita tiba-tiba merasakan sakit itu dan akhirnya tidak sadarkan diri. “Tahu-tahu saya sudah di rumah sakit. Kepala berdarah karena berbenturan dengan meja saat aku pingsan,” ceritanya.

Tapi, kondisi itu tidak menyurutkan langkah Gita. Menurut dia, masih banyak yang bisa dilakukan dalam hidupnya dan dia tidak ingin berhenti begitu saja di tengah jalan. Dia bahwa sering merasa tertantang melakukan sesuatu pekerjaan yang menurut orang lain sulit dilakukan. “Kalau di kantor ada yang bilang itu sulit, aku justru berpikir, itu akan jadi tantangan menarik buat aku, Oh yeah..aku bisa kok,” lanjutnya.

Sifat ambisius itulah yang menurut orangtuanya bisa membahayakan jiwa Gita. Berkali-kali orang tuanya mengingatkan Gita agar mengurangi aktivitasnya. Namun, Gita tidak bisa seperti itu. Menurut dia, hidup harus terus berjalan. “Kita tidak bisa berhenti begitu saja. Tapi, sekarang aku lebih moderat. Pulang sore nonton TV, malam hang out, ya patuhlah ama orangtua,” paparnya.

Meski begitu, setiap sore, Gita tetap tidak bisa diam. Beberapa kegiatan dia jalani. Setiap pulang kantor, dia ikut kursus bahasa Jerman, Jepang, dan menjalani hobinya berlari dan berdansa. “Aku bisa berlari sekarang. Desember tahun lalu aku ikutan kejuaraan maraton 21 kilometer di Singapura,” lanjutnya.

Bagaimana soal pacar? Gita ... saat ini sedang berpacaran dengan seorang pria asal Malaysia, namun mempunyai garis keturunan dari Jawa, Indonesia.

Bahkan, hubungan mereka sudah serius dan berencana menikah Agustus mendatang. Apakah sang pacar sudah mengetahui penyakit Gita? “Dia tahu. Dia bisa menerima karena ibunya meninggal setelah terkena penyakit lupus, yang gejalanya hampir mirip dengan penyakitku,” katanya seraya merahasiakan nama sang pacar.

Soal penyakitnya, Gita sama sekali tidak takut memberitahukan ke pacarnya yang sama-sama bekerja di Singapura itu. Menurut dia, kejujuran di awal akan lebih baik daripada diketahui belakangan. Selain itu, dia juga mengaku bukan tipe wanita yang takut ditinggalkan oleh pria.

Yang penting, menurut Gita, hidupnya harus terus berarti buat orang lain. Meskipun dokter sudah memberi tahu bahwa penyakitnya tidak bisa disembuhkan, hanya dikurangi rasa sakitnya. Hidup harus terus berjalan meskipun beriring dengan rasa sakit. Gita bahkan berniat mengambil kuliah lanjutan (master) di Amerika Serikat. “Saya akan ambil MBA di University of Pennsylvania. Mungkin sebentar lagi,” lanjutnya.

Ketegaran Gita Rusminda dalam menghadapi penyakit yang langka dan dinyatakan tak bisa disembuhkan patut dijadikan contoh. Sejak dinyatakan sakit, dia tak pernah putus asa dan tak pernah menggantungkan hidup kepada orang lain, termasuk kedua orangtuanya.

“Aku sudah terbiasa mandiri sejak kecil,” katanya, tegas.

Gita menceritakan, ketika kebingungan mencari pekerjaan setelah lulus kuliah dari Jurusan Political Science, Universitas Chicago, Amerika Serikat, pada 2004, dirinya tak mendapatkan bantuan sedikit pun dari sang ayah. “Ayah hanya berpesan, carilah pekerjaan yang sesuai dengan keinginanmu. Sebab, untuk hidup, kamu harus berusaha sendiri,” papar Gita, menirukan nasihat ayahnya. Gita pun mencari pekerjaan sendiri.

Dan, saat ini, Gita hidup mandiri di Singapura.

--Sumber: Jawa Pos, 24-26 April 2008

Baca selengkapnya...

cerita « WordPress.com

Koran Republika :: Dialog Jumat

BBCIndonesia.com - Laporan Mendalam

Home | About Me | Contact

Copyright © 2008 - M Shodiq Mustika

Header Image credit: adapted from Memoirs of a Geisha Wallpapers

  © 2009 True Story template by M Shodiq Mustika

Back to TOP