07 Februari 2009

Klip Video & Soundtrack "Perempuan Berkalung Sorban" (Benarkah film ini melecehkan Islam?)

Mau lihat klip video film "Perempuan Berkalung Sorban" dan klip dua lagu Original Soundtrack-nya yang dinyanyikan Siti Nurhaliza? Oke. Di postingan ini kita bisa menyaksikannya. Selain itu, kita bisa menyimak kontroversi yang menyertai film ini. Kontroversinya: Apakah film yang menceritakan seorang santriwati "pendobrak kemapanan" ini melecehkan Islam?

Simak selengkapnya...

Baca selengkapnya...

26 Januari 2009

Seorang lelaki muda yang luar biasa

Konon, anak muda "maunya menang sendiri". Paling tidak, begitulah kata Rhoma Irama dalam salah satu lagu legendarisnya, "Darah Muda". Konon pula, eh... bukan lagi "konon". Berbagai penelitian mutakhir (antara lain oleh Deborah Tannen) menunjukkan bahwa para pria pada umumnya enggan meminta maaf atas kesalahannya. Jadi, kalau ada seorang lelaki muda yang ternyata mau mengakui kesalahannya dan kemudian minta maaf kepadaku, maka kesimpulan kita: dia itu luar biasa, lain dari yang lain!

Siapakah lelaki muda yang aku maksudkan ini? Bagaimanakah profilnya?

Namanya Hidayat. Profilnya di Friendster bisa kita saksikan dengan leluasa.

Usianya 24. Kuliahnya di TRISAKTI Teknik Mesin 2003. Status? Single! (Wahai akhwat sekalian, silakan berta'aruf dengan dia!)

Kasusnya, kemarin-kemarin Hidayat bertamu ke beberapa blogku yang membicarakan masalah pacaran islami. Antara lain, dia menyampaikan sebuah komentar:



assalamualaikum, waduh pak shodiq ini, ente macam politikus ajah pak, masyaAllah pintar mengelak dengan mengadakan bukti2 yang dibenar2kan dan di hubung2kan, ku nggak habis pikir pak apa yang ada di pikiran ente, mang dulu masa mudanya gimana pak, bapak rohis yah, trus pacaran, trus di sidang ma dewan suro rohis, trus dendam kesumat merasa dipermalukan, saking dendamnya jadi buat yang kaya beginian, untuk membenarkan masa muda yang dulu ente lakukan jadi menganjurkan para pemuda pemudi khususnya islam untuk pacaran, aduh pak kasiahan bangat ente, katahuan pak bapak tuh egois, orang yang ga mau disalahkan, orang yang ga bisa mengakui kesalahan, jadi ente ngeracunin deh tmen2 ane, saudara2 ane lewat pacaran islami, parah bangat dah ah, ku jadi malu sebagai sesama manusia, btw bapak manusia kan yah, alhamdulillah kalo gitu, afwan sebelumnya niy kalo ente marah hehe, oh iya pak satu lagi, wajah ente lucu, kliatannya baik, mending jadi orang baik ajah pak, ditunggu konfirmasi ente yah, mudah2an berita baik, ente mau mengakui kesalahan ente, jadi orang bijak lah pak, ente keliatannya intelek dengan analisa2nya, sayang banget analisa sebagus itu buat yang begini2an… ok, salam hangat pak shodiq, assalamualaikum…



Terhadap komentar yang kurang sopan tersebut, kami sampaikan nasihat kepada dia, "Kalau tak mampu mengerjakan PR di atas, jangan melancarkan fitnah dan prasangka buruk gitu, dong! Bertindak sopanlah selaku tamu blog ini sebelum para pengunjung lain meminta kami mengusir Anda."

Alhamdulillah, nasihat kami itu dia terima dengan sebaik-baiknya. Tadi sore, melalui Friendster, dia sampaikan pesan kepadaku sebagai berikut.



pa kabar pak shodiq mudah2an antum sekeluarga sehat semua yah, sebelumnya ana mau minta maaf niy soal comment ana yang kemaren-kemaren, maklumlah ana rada kaget, n gejolak anak muda suka meledak ledak, tapi ana mau tanya, pacaran islami yang pak sodiq ungkapkan itu seperti apa jelasnya, apakah boleh pegangan tangan, trus mesra2an di telpon, bilang sayang, cinta, ngegombal, kan itu semua pak yang biasa dilakukan orang yang pacaran, ... mohon penjelasannya pak, jangan yang ribet2 ya pak, saya juga baru belajar niy, mencoba memperbaiki kesalahan yang udah2.. thanks pak, afwan, sukron...


Tentu saja, permintaan maafnya aku terima. (Untuk penjelasan yang dia minta, aku menyarankan dia untuk membaca artikel "Pengalaman PraNikah Diriku & PraNikah Rasulullah SAW" dan halaman "Fiqih Pacaran".) Bukan hanya memaafkan, aku pun merasa salut kepadanya. Sikapnya itu luar biasa, bukan?

Ataukah kau belum yakin bahwa sikapnya itu luar biasa? Untuk pembanding, marilah kita perhatikan sikap sejumlah lelaki muda lainnya yang pernah kami beri nasihat serupa pada kasus yang juga serupa.

Walau sudah kami nasihati untuk bertindak sopan, si X (seorang penggemar mobil mewah yang anti pacaran) malah menyampaikan pesan-pesan yang lebih biadab. Diantaranya: "[kowe] iki koyo’e wong EDAN, wis ta’lah C*K, gak usah ngomong agomo, RAIMU iku pantes-e doyan WEDOKAN ae, g usah dihubung2no ambek agomo." (Kata-kata yang berbahasa Jawa kasar tersebut bermakna: "[Kamu] ini sepertinya orang GILA, sudahlah Bung, tak usah bicarakan agama, TAMPANGMU itu pantasnya suka MAIN PEREMPUAN saja, tak usah dihubung-hubungkan dengan agama.")

Meski sudah kami nasihati untuk bertindak sopan, si Y, si Z, dkk, justru mengajak para pengunjung blog mereka masing-masing untuk melecehkan diriku. Kupikir, tak perlulah kusebutkan apa saja hujatan para lelaki muda itu mengenai diriku. Kau dapat dengan mudah menjumpainya di internet melalui browsing.

Kita dapat membandingkan sikap si X, Y, Z, dkk. itu dengan sikap Hidayat yang telah kuceritakan di atas. Jauh berbeda seperti antara bumi dan langit, 'kan?

Sekarang, marilah kita ambil berbagai pelajaran dari sang lelaki muda yang luar biasa tadi. Nah, kau mau menambahkan penjelasan? Silakan!


Baca selengkapnya...

23 Januari 2009

Kisah penjual tempe

Ada sebuah kampung di pedalaman Tanah Jawa. Disitu ada seorang perempuan tua yang sangat kuat beribadat. Pekerjaannya ialah membuat tempe dan menjualnya di pasar setiap hari. Ia merupakan satu-satunya sumber pendapatannya untuk menyambung hidup. Tempe yang dijualnya merupakan tempe yang dibuatnya sendiri.

Pada suatu pagi, seperti biasa, ketika beliau sedang bersiap-siap untuk pergi menjual tempenya, tiba tiba dia tersadar yang tempenya yang diperbuat dari kacang kedelai hari itu baru separuh jadi. Diperiksanya beberapa bungkusan yang lain. Ternyatalah semuanya belum jadi.

Perempuan tua itu berasa amat sedih sebab tempe separuh jadi pasti tidak akan laku dan tiadalah rezekinya pada hari itu. Dalam suasana hatinya yang sedih, dia yang memang kuat beribadah teringat akan firman Allah yang menyatakan bahawa Allah dapat melakukan perkara-perkara ajaib,bahwa bagiNya tiada yang mustahil. Lalu diapun mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , “Ya Allah, aku memohon kepadaMu agar kacang kedelai ini menjadi tempe. Amin.”

Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Dia sangat yakin bahawa Allah pasti mengabulkan doanya. Dengan tenang perempuan tua itu menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan ujung jarinya dan dia pun membuka sikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang kedelai itu menjadi tempe. Namun, dia termenung seketika sebab kacang tu masih tetap kacang kedelai.

Namun dia tidak putus asa, sebaliknya berfikir mungkin doanya kurang jelas didengar oleh Allah. Maka dia pun mengangkat kedua tangannya semula dan berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu bahawa tiada yang mustahil bagiMu. Bantulah aku supaya hari ini aku dapat menjual tempe karena inilah mata pencarianku. Aku mohon agar jadikanlah kacang kedelaiku ini menjadi tempe, Amin.”

Dengan penuh harapan dan debaran dia pun sekali lagi membuka sedikit bungkusan tu. Apakah yang terjadi? Dia termangu dan heran karena tempenya masih tetap begitu!! Sementara itu hari pun semakin meninggi sudah tentu pasar sudah mula didatangi orang ramai. Dia tetap tidak kecewa atas doanya yang belum terkabul. Walau bagaimanapun kerana keyakinannya yg sangat tinggi dia berenca untuk tetap pergi ke pasar membawa barang jualannya itu. Perempuan tua itu pun berserah pada Tuhan dan meneruskan bepergian ke pasar sambil berdoa dengan harapan apabila sampai di pasar kesemua tempenya akan jadi.

Dia berfikir mungkin keajaiban Allah akan terjadi dalam perjalanannya ke pasar. Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. “Ya Allah, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju ke pasar, Engkau kurniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah tempe ini. Amin”. Lalu dia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan dia tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya. Sesampai di pasar, segera dia meletakkan barang-barangnya. Hatinya betul-betul yakin yang tempenya sekarang mesti sudah jadi. Dengan hati yg berdebar-debar dia pun membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan tempe yang ada.

Perlahan-lahan dia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Tempenya masih setengah jadi!! Dia lalu menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya sudah mula merasa sedikit kecewa dan putus asa kepada Allah karena doanya tidak dikabulkan. Dia berasakan Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan padanya, inilah satu-satunya puncak rezekinya, hasil jualan tempe. Dia akhirnya cuma duduk sahaja tanpa memamerkan barang jualannya sebab dia berasakan bahwa tiada orang yang akan membeli tempe yang baru separuh menjadi. Sementara itu hari pun semakin petang dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mula kurang.

Dia meninjau-ninjau kawan-kawan sesama penjual tempe, tempe mereka sudah hampir habis. Dia tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan bahawa hari ini tiada hasil jualan yang boleh dibawa pulang. Namun jauh di sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada Allah, pasti Allah akan menolongnya. Walaupun dia tahu bahawa pada hari itu dia tidak akan dapat pendapatan langsung, namun dia tetap berdoa buat kali terakhir, “Ya Allah,berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang setengah ini.”

Tiba-tiba dia dikejutkan dengan teguran seorang wanita. “Maaf ya, saya ingin bertanya, Apakah Ibu menjual tempe yang belum menjadi? Dari tadi saya sudah pusing keliling pasar ini untuk mencarinya tapi masih belum menemukannya.” Dia termenung dan terkejut seketika. Hatinya terkejut sebab sejak berpuluh tahun menjual tempe, tidak pernah seorang pun pelanggannya mencari tempe yang belum menjadi. Sebelum dia menjawab sapaan wanita di depannya itu, cepat-cepat dia berdoa di dalam hatinya”Ya Allah, saat ini aku tidak mahu tempe ini menjadi lagi. Biarlah tempe ini seperti semula, Amin”.

Sebelum dia menjawab pertanyaan wanita itu, dia membuka sedikit daun penutup tempenya. Alangkah senangnya dia, ternyata memang benar tempenya masih setengah jadi! Dia pun rasa gembira dalam hatinya dan bersyukur pada Allah. Wanita itu pun memborong habis kesemua tempenya yang setengah jadi itu. Sebelum wanita tu pergi, dia sempat bertanya wanita itu, “Mengapa hendak membeli tempe yang belum jadi?” Wanita itu menerangkan bahawa anaknya yang kini berada di Inggris ingin makan tempe dari desa. Melihat tempe itu akan dikirimkan ke Inggris, si ibu tadi harus membeli tempe yang setengah jadi supaya apabila sampai di Inggris nanti akan menjadi tempe yang jadi dan sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang sudah jadi, nanti di sana tempe itu sudah tidak baik lagi dan rasanya pun kurang sedap.



Baca selengkapnya...

03 Januari 2009

Mahasiswa vs Sopir Metromini

Filsuf besar Yunani Aristoteles pernah mengatakan “Siapapun bisa marah, tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah”. Pernyataan sang filsuf ini terbukti kebenarannya pada sebuah kejadian yang dialami oleh Amril Taufiq Gobel alias Daeng Battala’ sebagai berikut.

Dari tempat kos di Cawang, Daeng bermaksud menumpang Metromini ke Mall Kalibata untuk membeli buku.

Matahari bersinar sangat terik waktu itu. Rasanya ubun-ubun kepala bagai terbakar. Daeng merutuk kesal lupa membawa topi yang sudah Daeng siapkan sebelumnya dikamar kos.

Saat akan turun, terjadilah musibah itu. Bis yang Daeng tumpangi itu melaju kencang sebelum kaki Daeng benar-benar menapak kokoh dijalan. Tak ayal Daeng pun jatuh terguling-guling diatas aspal. Masih untung, Daeng memiliki “peredam kejut” yang lumayan mumpuni berupa bokong yang padat montok sehingga ketika tubuh jatuh berdebum di aspal tidak terlalu menghasilkan akibat yang parah.

Tapi tetap saja sakit.

Celana Jeans Daeng kotor dan ditambah rasa malu bukan main disaksikan sejumlah orang yang berada di depan mall.

Kemarahan Daeng seketika memuncak. Daeng lalu berlari mengejar Metromini itu yang kebetulan sedang berjalan pelan karena tepat didepannya ada pintu perlintasan kereta api. Akhirnya Daeng berhasil naik ke atas metromini dan langsung menuju tempat pengemudi berada.

Dengan geram Daeng langsung mencengkram kerah kaos kumal supir yang berperawakan lebih kecil dari Daeng itu seraya menatap tajam kepadanya. Sang kondektur mencoba membantu tapi ia tidak berani ketika Daeng sudah memasang kuda-kuda untuk menghajarnya bila ia mau mendekat. Daeng telah siap menerapkan ilmu beladiri yang pernah Daeng pelajari untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Termasuk resiko bila dikeroyok.

Sang supir sangat ketakutan. Daeng lalu melontarkan sejumlah makian pedas dan sumpah serapah terhadapnya telah memperlakukan penumpang secara tidak manusiawi, masih untung Daeng—lelaki muda, kekar dan sehat —yang jadi korban, bagaimana jika seorang ibu hamil, anak-anak atau orang cacat yang mengalami nasib serupa?.Bukankah hasinya akan lebih fatal?.

Berkali-kali si supir menyampaikan permohonan maaf dengan suara lirih. Ia menyatakan sedang mengejar setoran sehingga buru-buru menekan pedal gas sebelum Daeng betul-betul menjejakkan kaki dengan sempurna. Hampir saja tinju Daeng melayang ke wajahnya ketika beberapa orang penumpang datang melerai. Daeng turun dari Metromini dengan rasa puas telah melampiaskan kemarahan. Saat bis itu bergerak maju, Daeng masih sempat menendang bumper belakang bis dengan gemas.

Daeng memutuskan untuk membatalkan niat Daeng ke toko buku. Dengan kondisi celana kotor dan rasa sakit di bagian punggung serta bokong, maka pilihan terbaik adalah kembali ketempat kos, menenangkan diri sekaligus beristirahat. Sudah hilang “mood” Daeng mencari buku hari itu.

Sebelum tiba ke tempat kos, Daeng mampir sejenak di wartel terdekat. Menelepon orang tua Daeng di Makassar.

Di telepon, Daeng menceritakan apa yang baru saja Daeng alami pada ayah. Berapi-api dan penuh semangat, juga sekaligus menunjukkan “legitimasi” dan kebanggaan bahwa putra sulungnya yang merantau jauh ini berhasil “menaklukkan” Jakarta dengan menundukkan supir metromini yang ceroboh. Ayah hanya mendengarkan Daeng nyerocos panjang ditelepon.

“Kamu belum bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, bahkan untuk dirimu sendiri sekalipun,” suara bariton ayah tiba-tiba terasa menikam hati begitu tajam di ujung telepon.

Daeng melongo.

Tak menduga malah mendapat tanggapan mengejutkan seperti ini.

“Kualitas kepemimpinanmu berada di level paling rendah, karena kamu tak mampu mengendalikan amarah. Camkan itu,” tegas ayah Daeng lagi.

Daeng mencoba berapologi bahwa apa yang Daeng lakukan tadi adalah bagian dari upaya Daeng untuk memberikan pelajaran pada sang supir Metromini untuk lebih berhati-hati, agar kejadian fatal serupa tidak terjadi lagi pada orang lain. Cukuplah Daeng saja yang jadi korban.

“Tindakanmu sudah benar,” kata ayah, ”tapi coba kamu pikir bagaimana bila kamu melakukannya dengan cara yang berbeda, bukan dengan cara koboi yang seperti kamu lakukan tadi.”

“Cara berbeda? Maksudnya, Pa?” tanya Daeng kebingungan.

Daeng mendengar helaan nafas panjang ayah Daeng diujung telepon.

“Kamu tetap mengejar dan menemui supir tadi lalu mengingatkannya—dengan kalimat yang lembut, bukan dengan rasa marah—bahwa tindakannya salah dan lebih berhati-hati dikemudian hari. Buka hatimu lebar-lebar dan cobalah berdamai dengan ketidaksempurnaan. Boleh jadi supir tadi mengejar setoran yang ditargetkan untuk biaya makan anak istrinya sehingga mesti buru-buru mencari penumpang lebih banyak atau supir tadi tidak mendengar aba-aba kondekturnya kamu mau turun atau ia sedang berada dalam fikiran yang kalut sehingga tak bisa berkonsentrasi penuh saat menurunkanmu sebagai penumpang, atau justru begini, coba kamu evaluasi kembali cara turunmu dari bis tadi, apakah sudah benar?. Dengan memahami ketidaksempurnaan yang terjadi pada supir itu dan pada kamu sendiri, tak akan ada alasan bagimu untuk marah begitu rupa”, tutur ayah Daeng panjang lebar di ujung telepon.

Daeng menggigit bibir.

Tapi jiwa muda Daeng memberontak, bagaimanapun Daeng tetap beranggapan, mesti dilakukan sebuah tindakan yang drastis serta sedikit anarkis, untuk menyadarkan tindakan ceroboh yang dilakukan oleh supir tadi.

“Kamu sudah sholat Dhuhur belum?” tanya ayah lembut, beliau seperti tahu apa yang sedang bergolak di batin Daeng.

“Belum,” sahut Daeng pelan.

“Coba kamu sholat Dhuhur dulu dikamar kos. Semoga dengan begitu, amarah yang melanda hatimu segera reda. Setan selalu berada didekat orang-orang marah. Telepon Papa lagi kalau kamu masih belum bisa tenang,” ujar ayah Daeng.

Setelah menutup telepon dan membayar biaya wartel, Daeng kembali ke kamar kos menunaikan sholat Dhuhur.

Diatas sajadah, usai sholat, Daeng menangis tertahan. Pelupuk mata Daeng basah dan dada disesaki keharuan mendalam.

Rasa sesal menyelinap perlahan dari hati. Daeng segera memohon ampun kepada Allah SWT atas kelalaian yang telah Daeng lakukan tadi. Emosi telah menguasai pikiran dan hati Daeng sehingga mengabaikan kesadaran untuk melakukan hal yang lebih rasional.

Ketika itu terjadi, tak ada satu pilihanpun dalam fikiran Daeng, kecuali membalas dan melampiaskannya. Rasa marah yang Daeng alami pada akhirnya menutup semua kemungkinan pilihan yang bisa Daeng raih seperti ketika Daeng tidak sedang marah.

Bila kemudian tadi Daeng berhasil memukul sang supir, se-“benar” apapun alasan tindakan Daeng, tetap saja faktanya Daeng telah menganiaya seseorang dan itu sudah melanggar hukum. Beruntunglah, Allah SWT masih melindungi Daeng dari tindakan konyol yang kontraproduktif itu.

=======
Sumber: Amril Taufiq Gobel, "BERDAMAI DENGAN KETIDAKSEMPURNAAN: SEBUAH KISAH TENTANG RASA MARAH"

Baca selengkapnya...

18 Desember 2008

Cerita yang Tersisa (Yessy Muchtar)

Ada sebuah cerita yang tersisa di saat gue [Yessy Muchtar] tidak masuk kantor seharian 2 hari yang lalu. Gue ijin tidak masuk kantor karena ingin bersama Tangguh [anak gue] yang sedang rewel.

Gue menemaninya membaca buku..(atau tepatnya membacakan buku cerita)
Menyuapi Tangguh makan pagi, siang dan sore… Serta mengajaknya bermain di taman. Dan jangan lupa acara mejeng bersama keliling komplek naik sepeda biru doraemon hehehehehe

Gue sungguh terkejut bisa melihat sesosok makhluk yang sempat gue kenal dekat, 10 tahun yang lalu.

Siapa Yes?? Mantan pacar??

Mmmm…..

Gue belum berpacaran dengan orang ini …tapi kami pernah sangat dekat.

10 tahun yang lalu…
Di saat gue baru memulai semester 1 di fakultas ekonomi Trisakti.
Pada saat itu..orang ini sudah masuk ke semester 5, di fakultas ekonomi Universitas Indonesia.

Flash back bentar ya…

Dia tinggal di daerah rumah yang sama dengan gue, singkat kata ..dia tetangga.

Gue mengenalnya …ya karena dia tetangga gue lah…apa lagi???

Gak mungkin kan tetangga gak kenal…kecuali lo tinggal di perumahan elite yang memang tidak saling bertegur sapa dengan tetangga.

Tapi gue tinggal di perkampungan ….di Jakarta yang katanya megah..dan mewah.

Kami dekat..
Dari mulai dia meminjami buku buku, sampai pergi nonton, jalan jalan ke toka buku., atau sekedar makan bakso dekat rumah…

Hehehehe….

10 tahun yang lalu…hal hal yang gue sebut di atas itu manis banget …

Karena apa???

Karena 10 tahun yang lalu…Gue masih menjadi sesosok Yessy yang super duper kurus, berkulit legam, dan berambut amat sangat pendek nyaris cepak……
(lo bisa bayangin kan..kuruusss, item, rambut cepak…..)
*pingsan dengan gemilang*

Hanya segelintir orang..atau mungkin nyaris tidak ada yang bisa memandang gue menarik saat itu.

Dan dia datang ….sebut saja namanya Mr Nice
Memberikan pertemanan.
Memberikan kebaikan
Memberikan senyuman ….yang hampir tidak pernah gue dapatkan dari lawan jenis pada saat itu

Lantas?
Berapa lama Yes hubungan itu?
Mengapa tidak jadian?

Hubungan tersebut berlangsung kurang lebih 5 bulan saja….
Karena ternyata ..si Mr nice ini sudah punya pacar

Heyyy..
Mana ada mahluk manis seperti ini nganggur dan gak punya pasangan..please deh…gue juga gak terlalu lugu dan ke gedean rasa untuk merasa dia naksir sama gue.

Dia memang tidak cerita di awal kalau dia sudah punya pacar.
Tapi ketika dia mengatakannya dan berterus terang ..entah kenapa gue gak harus merasa kesal, sebal ..atau bahkan marah….heheh..gue sadar banget lahhh..siapa guee gituhhh…dia mau sama gueeee….

Ada yang lucu ketika gue bertemu dengan pacar si mr Nice ini…
Pacarnya ternyata juga tidak putih…
Tapi cantik, sexy, dan berhidung bangir…
Dan yang paling gue gak tahan untuk komenin adalah…
Rambutnya!!!

Boouuwwww…
Warna rambutnya pirang emas gituuuuuuu!!!
Kontras sama kulitnnya yang gelap kekekekek
Berasa Belanda depok gituuuu..
Buceriiiiii..bule cat sendiriiiii…xixixixixi

Jadi waktu gak lama gue ketemuan…
Iya gue masih ketemuan beberapa saat setelah itu..
Gue nyela abis pacarnya ..
Gue bilang lah kayak bule buluk…(bener bener gak ngaca padahal gue mungkin lebih buluk dari ceweknya..saat itu)
Gue bilanglah orang item kok ya mikir pantessss pake warna rambut pirang!!!

Huahuahuahuahuahua
Dia gak marah
Dia cuma ketawa
Dan dia Cuma bilang…

“Seandainya cewek semuanya gak macem macem kayak kamu Yes…adem kali ya dunia..”

Kalimat itu justru membuat gue berpikir….
Hey..berarti gue gak macem macem ya?
Gue ..biasa aja ya?
Gue….gak spesial dong…?

Banyak cara untuk bersyukur
Bukannya gue tidak mensyukuri apa yang gue punya…
Tapi fakta bahwa gue tidak terlihat menarik (saat itu)…bukanlah hal yang gue suka
Dan gue berusaha keras untuk merubahnya…

Dari mulai manjangin rambut.
Gemukin badan yang super duper kurus itu…(please deh say..gue bahkan terlihat gak punya dada saking kurusnya)
Belajar dandan…
Sering sering nyalon dan luluran.

Dan gue akhirnya bisa menikmati bayangan diri gue sendiri di cermin.
Ah….itu ..gue ya???
Gue gak papa kok…
Gak papa banget…..
Dan gue mulai bisa tersenyum setiap kali berkaca di cermin.

Mr nice itu akhirnya menikah dan menetap di Surabaya
Gua gak tau dia menikah dengan siapa.
Sepertinya bukan dengan si pirang itu.

Lantas…apa yang terjadi 2 hari yang lalu???

Gue tidak mempercayai mata gue ketika gue melihat sosoknya di taman itu.
Dia bersama anak kecil…yang gue kenali sebagai anak dari kakaknya.

Dia melihat gue…setengah tidak mengenali..setengah bertanya..
”do I know you..?”
Sampai akhirnya dia mendekati gue dan berkata..

“Yessy?”

Gue tersenyum …

“Hey …apa kabar?”
“Astaga..Yess….ini beneran kamu?”
Matanya seperti menyapu gue dari ujung kaki sampai ujung rambut..
*Entar gue tanyain deh ..tuh mata pake vacuum cleaner merek apaan*

“Bukanya kamu tinggal di Surabaya?”

“Heheheh…iya….aku kesini ada tugas kantor”

“Sendiri?”

“Iya..”

“Anak sudah berapa?”

“Dua…”
Dia tersenyum…

“Oya…laki atau cewek?”

“Kembar Yes…aku punya anak kembar..dan dua duanya cowok..”

“Astagaaaa lucu bangettttttt….mana liat potonyaaaaa??
*Heri..heboh sendiri*

“Heheheh…aku gak bawa…ada di hp …tapi ketinggalan di rumah…mau mampir?”

“Hahaha…enggak ah…ini anakku lagi main ..”

“Anakmu mirip ayahnya pasti..”

Gue tersenyum…

Lantas banyak cerita keluar dari bibir kami.
Tentang kehidupan sekarang.
Tentang pekerjaan.
Tentang teman teman kami dulu.
Sampai akhirnya dia mengeluarkan kalimat ini…

You look different…”

I know..”

You look …not …you…ten years ago..”

People deserve to change…and I like my self better now..

“Hahaha…I think everybody have no problem with you ..back in ten years ago

Yes….they have no problem with me…and yet….i am invisible

“Hey….kamu gak invisible….”

“Kamu cewek tomboy yang lucu ..yang berkelakuan hampir seperti lelaki…dan amat sangat menyenangkan”

Gue Cuma diam..obrolan ini terlalu berat untuk gue lalui di taman sambil menggendong Tangguh dan menjaganya berlalu lalang di jalan setapak.

“Tapi Yes….tau gak ..apa yang bikin kamu beda banget sekarang?”

“Apa?”

Yessy Muchtar

“Rambut kamu..kenapa bisa kayak sundel bolong gituh ya sekarang?”

“Heh!?!?…enak ajaaaaaaa…ini bukan rambut sundel bolong tau!!??!…..ini rambut megaloman!?!?”

“Wakakakakka… iyaaaaa… udah gitu di warnain pulaaaaaaaaa… ihhhhhhhh….. norakkkkkkkk….masak warnanya marun gituuu.. apa apaan tuhh… norak bangetttttt.. orang item gak bakalan pantes dengan rambut maruh gitu tauuuuu”

Wakakakakakakkakakakakkakaka
Sialan
Dia berhasil mencela gue balik
Di saat gue mencela pacarnya 10 tahun yang lalu.

“Heheheheh… kena deh sekarang…..”

“Kenapa jadi di cat juga… bukannya dulu kamu anti banget sama rambut yang gak hitam.?.”

“Aku ingin mencoba hal baru.. itu aja..:)”

Dia tersenyum…

Seiring sore dan makin bergelincirnya paman matahari
*jahhhhhhhhh…gak kuatttttt bahasa lo Yessss*

Gue pamit….
Kami berpisah
Tidak bertukar no handphone
Tidak bertukar alamat
Tapi kami tahu..kami akan tetap menjadi teman baik…selalu

Sebelum gue jauh…dia kembali memanggil gue..

“Yes….”

Gue berpaling sesaat…

You look great with maroon long hair…”

Dan gue cuma tersenyum…serta kembali pamit sambil menggendong Tangguh.


Hey you mr Nice….
Just wanna say thank you
You gave a tremendous five months relationship as friend
And……
The moment of truth with you…10 years ago..had change me…completely
I hope you have all the great things in life…for sure
Take care you…


------------
Cerita di atas merupakan kutipan dari sebuah cerita di blog Yessy Muchtar.


Baca selengkapnya...

16 Oktober 2008

Melukis Ayat Allah Hingga ke Negeri Pagoda

Nur Jalal Pembuat Kaligrafi

Sosoknya terlihat begitu sederhana dan bersahaja. Mengenakan peci hitam, baju koko krem dengan sedikit bordir di bagian leher, celana panjang hijau lumut dan sandal kulit yang penuh bintik-bintik tumpahan cat, pembuat kaligrafi Nur Jalal menerima kehadiran Riau Pos yang datang langsung melihatnya bekerja di sebuah masjid yang baru dibangun di Jalan Tuanku Tambusai Ujung.

"Assalamualaikum, silahkan. Beginilah kerja kami sehari-hari," katanya di sebuah siang yang cukup terik di awal Ramadan lalu. Ketika itu Nur Jalal kebetulan tengah beristirahat.

Tak jauh dari tempat kami berbincang, tampak puluhan kaleng cat, berbagai jenis kuas serta spun kaligrafi. Sementara itu, salah seorang anggota timnya, Abdul Wahid (33), sibuk mendorong steling yang kemudian akan digunakan sebagai tangga ketika akan mengecat kaligrafi.

Namun siapa sangka, ternyata hasil karya pria lajang berperawakan sedang ini telah nyaris ‘menyapu bersih’ hampir semua pembuatan kaligrafi masjid-masjid di Pekanbaru. "Waduh, janganlah begitu (terlalu memuji, red). Sebenarnya saya ni biasa-biasa saja. Yang bos itu Pak Haji Muktamar. Dia sebenarnya yang punya bisnis ini. Yang deal-deal proyek ini dia. Tapi yang mengerjakan di lapangan sekarang memang saya," tutur budak Dabo Singkep ini.

Nur Jalal mungkin memang hanya merendah. Tapi bukti hasil kerjanya sama sekali tidak demikian. Sudah beratus-ratus kaligrafi di masjid yang telah dihasilkan oleh goresan tangannya. Mulai dari Masjid Raya Bengkalis, Masjid Raya Siak, Masjid Agung Annur Pekanbaru, Masjid Raya Tembilahan, masjid di lingkungan Kantor Gubernur Riau, Islamic Centre Siak, Masjid Raya Dumai, Masjid Raya Dumai, Masjid Raya Rengat, musalla di lingkungan Kantor Polda Riau, masjid di Poltabes Jogjakarta, hingga perumahan di ibukota Jakarta.

Itu belum lagi sejumlah masjid-masjid lainnya di berbagai kabupaten di Riau. Bahkan, hasil karya pria lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta ini telah pula sampai ke Masjid Kerajaan Malaysia, serta masjid di Brunei Darussalam hingga ke Negeri Seribu Pagoda, Thailand. "Kalau untuk di Pekanbaru hampir merata. Sudah tak terhitung lagi jumlah masjid yang kaligrafinya telah kami kerjakan," ujar Abdul Wahid menimpal pembicaraan.

Nur Jalal bercerita, sebenarnya ia belajar membuat kaligrafi secara otodidak dari H Muktamar yang tak lain adalah abang iparnya sendiri. Mulanya ia hanya melihat-lihat abang iparnya bekerja, lalu mulai sedikit bantu-bantu hingga akhirnya berani mengerjakan kaligrafi sendiri. "Tahun 1999 saya mulai ikut membuat kaligrafi biasa. Ide mulai serius menekuni kaligrafi timbul ketika saya membantu mengerjakan Masjid Raya Tembilahan. Di situ ayatnya besar-besar. Kira-kira 10 Cm kali 4 Mm. Di situlah awalnya saya belajar. Lalu mulai tahun 2000-an ketika ada proyek pengerjaan kaligrafi di Masjid Agung Annur Pekanbaru, saya sudah terlibat langsung," katanya mengenang.

Menurut Nur Jalal, saat ini untuk kaligrafi timbul ada dua jenis. Yakni yang terbuat dari semen dan dari spun. Spun ini adalah bahan mirip karet berwarna putih susu dan agak tebal yang bisa dibeli di took-toko meubel. Spun ini nantinya bisa dibuat jadi mal (ukiran di tepi-tepi kaligrafi) dan tulisan kaligrafi itu sendiri. Setelah selesai dibuat dengan tangan, spun ini lalu dipotong atau dilubangi dengan pisau cutter. Kerjanya hampir mirip dengan orang mengukir. Spun kaligrafi yang sudah jadi inilah yang nantinya akan ditempelkan di dinding-dinding masjid, baru kemudian dicat.

Untuk mengecat kaligrafi dipakai cat air dan cat minyak. Cat air biasanya digunakan untuk dasar, sedangkan cat minyak untuk kaligrafi timbul. Atau bisa juga dibuat dengan kertas prada emas atau perak. Harganya sekitar Rp400 ribu per meter. Kertas emas atau perak ini nantinya akan ditempelkan ke huruf kaligrafi timbul lalu ditarik sehingga warna emas dan peraknya melekat.

Kini untuk memikirkan warna apa yang hendak dipakai sudah tak susah lagi karena untuk mengaduk-aduk cat sudah bisa dilakukan lewat komputer. Karena sangat jarang kaligrafi dicat hanya dengan menggunakan satu warna. Minimal digunakan dua campuran warna. Bahkan kadang bisa merupakan campuran 3-4 warna induk. Karena itu, Nur Jalal sangat jarang menggunakan cat dengan warna asli yang sudah jadi di toko. Rata-rata semua sudah menggunakan cat yang merupakan perpaduan berbagai warna. Sedang untuk mal berupa hiasan pinggir, ia memiliki sejumlah kreasi. Sehingga beda masjid akan beda pula mal-nya, agar tidak bosan.

Saat ini, untuk pembuatan kaligrafi di dalam masjid (indoor) lebih banyak digunakan spun. Karena tentu sayang jika dinding masjid yang sudah jadi dan indah terpaksa ditokok-tokok kembali untuk membuat kaligrafi timbul. Tapi spun tidak cocok dipakai untuk kaligrafi di dinding luar masjid karena jika sering kena air (misalnya tempias hujan) dia akan empuk. "Karena itu untuk kaligrafi timbul di dinding luar masjid tetap lebih bagus yang dari semen, sebab awet. Tapi memang pembuatannya lebih rumit dari spun. Kalau terlalu panas, kadang semen bisa pecah," ujarnya. Karena itu harga pembuatan kaligrafi timbul dari semen juga lebih mahal daripada spun. Saat ini, kaligrafi timbul dari semen dihargai Rp900 ribu per meter. Sedang yang dari spun Rp700 ribu per meter. Umumnya kaligrafi dibayar per meter, meski ada juga yang borongan.

Lama pengerjaan kaligrafi di masjid menurut Nur Jalal sesuai dengan ukuran masjid dan panjang kaligrafi yang dipesan. Tapi rata-rata pengerjaan kaligrafi satu masjid memakan waktu sekitar 2-3 bulan. Paling lama tiga bulan sudah selesai. Karena mereka mengerjakannya dalam bentuk kerja tim. Saat ini ia memiliki sekitar 6-8 orang karyawan. Mereka kemudian dibagi njadi 2-4 orang untuk satu proyek. Karyawan yang bertugas mengecat ini digaji harian. Rata-rata mereka sudah ikut di atas lima tahun. ‘’Membuat kaligrafi ini tak bisa sendiri. Ini kerja tim, jadi nggak boleh saling iri. Tak ada senior, junior. Kalau hari libur juga terserah. Makan juga sama-sama dan ditanggung. Bahkan lauk-pauknya juga terserah, silahkan pilih sendiri,’’ tuturnya.

Seperti dikatakan Nur Jalal, sebenarnya tulisan indah (khat) yang kemudian menjadi seni kaligrafi tetap tidak berubah. Karena itu diperlukan pengembangan. "Sebab itu namanya seni kaligrafi. Karena semua tergantung ide dan pengembangan kita. Sebab kaligrafi itu ada kaidah-kaidahnya yang tak semua orang bahkan anak yang belajar kaligrafi sendiri mengerti. Karena dalam penulisan kaligrafi tak semua huruf (hijaiyah) boleh diletakkan di atas atau di bawah. Ada orang yang sama-sama belajar kaligrafi, tapi rata-rata hanya bisa bagus menulis kaligrafi di kanvas atau triplek. Tapi kalau sudah praktik membuat kaligrafi di dinding masjid, belum tentu semua mampu. Karena yang paling susah dalam pembuatan kaligrafi di dinding itu adalah mengepaskan ayat dengan luas tempat yang ada. Karena itu kadang ada ayat yang terlalu kurus atau bahkan terlalu gemuk," tuturnya.

Dikatakan Nur Jalal, kebanyakan ayat yang dipakai untuk kaligrafi adalah ayat-ayat panjang. Atau asma’ul husna, kalimat syahadat, ayat alam nasyarah atau bisa juga ayat pesanan dari si empunya kaligrafi. Tapi umumnya tidak akan jauh dari ayat yang mengajak ke arah ketauhidan dan ketaqwaan.

Ketika ditanya berapa penghasilan sebagai pembuat kaligrafi, Nur Jalal tampaknya agak sedikit mengelak. "Rezeki itu kan yang penting berkahnya. Kalau duit banyak tapi nggak berkah dan kita sakit terus kan nggak ada gunanya juga. Syukur alhamdulillah sampai sekarang rezeki nggak putus-putus. Selalu saja ada pihak yang memesan pembuatan kaligrafi. Ramadan justru malah banyak proyek. Karena biasanya banyak orang menyumbang sehingga akhirnya para pengurus masjid punya uang dan berani memesan pembuatan kaligrafi," bebernya.

Kadang-kadang, lanjut Nur Jalal, pembuatan kaligrafi ini juga dilelang ke jamaah. Misalnya ada yang membiayai 0,5 meter, 1 meter dan sebagainya. "Sekarang saja selain di masjid ini kami juga sedang ada proyek di Masjid Al Manar di Jalan Duyung Pekanbaru. Bahkan sebuah masjid di Tambang, Kampar, baru-baru ini juga sudah menelepon meminta ke sana. Tapi mungkin setelah Hari Raya Idul Fitri saja. Alhamdulillah sekarang kita tak perlu cari-cari proyek lagi. Sudah banyak orang yang datang," tuturnya.

Pendapat ini pun dibenarkan oleh Abdul Wahid. Menurut pria asal Pidie, Aceh ini, ia sebenarnya sudah lama ikut tim Nur Jalal. Hanya baru terlibat aktif tiga tahun belakangan. Ia mengaku tak punya pekerjaan lain di luar selain mengecat kaligrafi bersama Nur Jalal. "Insya Allah saya betah. Alhamdulillah tidak pusing naik turun steling. Sekarang saya sudah tidak menontrak rumah lagi. Sudah mampu beli perumnas," ujar pria beranak satu ini.

Jika kita kalkulasikan, dari sebuah masjid dengan ukuran tidak terlalu besar (misalnya 25 kali 25 meter) dengan luas pembuatan kaligrafi sekitar 80 meter, Nur Jalal sudah mendapat uang kurang lebih Rp 56 juta di luar ongkos bahan. Itu belum lagi ditambah bonus (fee) jika ia menjadi penyambung lidah sebuah proyek yang kemudian berakhir deal. Hari Raya Idul Fitri juga dapat THR. Dengan penghasilan itu, Nur Jalal telah berhasil pergi umroh ke Tanah Suci pertengahan Mei lalu. Saat ini dia pun tengah berusaha mewujudkan mimpinya kembali naik haji ke Mekkah.

Masjid mana yang paling berkesan? "Semua masjid berkesan. Karena keindahannya berbeda-beda. Makin indah hasil kerjaan kita, makin puas. Kepuasan itu timbul setelah menyelesaikan tahap finishing. Jadi tidak cuma sekadar materi. Kaligrafi itu yang mahal seninya. Karena keindahannya," katanya.

Selama membuat kaligrafi, proyek terlama yang dikerjakan Nur Jalal adalah ketika membuat kaligrafi di RS Zainab Pekanbaru yang memakan waktu hingga empat bulan karena hampir sekeliling gedung berhiaskan kaligrafi. Sedangkan yang paling ‘kejar tayang’ adalah musalla di lingkungan Kantor Polda Riau yang dikerjakan hanya dalam tempo 15 hari. "Bahkan di malam terakhir kami bahkan baru pulang ketika subuh," kenangnya.

Apa tidak ingin cari kerjaan lain? "Ya saya juga ada keinginan untuk menjajal profesi lain. Kalau saya memang ada kemampuan, mengapa tak dicoba? Ya kan? Tapi membuat kaligrafi ini takkan saya tinggalkan," katanya.

Saat ini, jelas Nur Jalal, Pak H Muktamar telah mendirikan sekolah kaligrafi. Namanya Sanggar Kaligrafi Anugerah (Sanka) di Jalan Sembilang Indah/Jalan Paus Ujung. Mencarinya pun cukup mudah. Tinggal mencari gerbang jalan yang penuh kaligrafi. "Waktu gerbang itu dibuat, warga sekitar usul, gimana kalau kita hias dengan kaligrafi. Kan di sini ada ahlinya. Makanyalah gerbang itu ada kaligrafinya," katanya.

Menurut cerita Nur Jalal, Pak H Muktamar telah aktif membuat kaligrafi sejak era tahun 1980-an. Bahkan pria yang akrab disapa Pak Haji ini telah mulai belajar membuat kaligrafi sejak SD, lalu ikut tingkat kabupaten hingga training centre. Setelah itu dia mulai merintis sekolah kaligrafi. Kini sanggar itu telah diresmikan lima bulan lalu. Murid-muridnya telah sampai menjadi juara nasional bahkan hingga tingkat ASEAN. Para guru yang mengajar di Sanka pun didatangkan khusus dari Lembaga Kaligrafi Nasional (Lemka) yang kini dipimpin Dr Didin Sirojuddin.

"Pak Didin yang langsung merekomendasikan guru-gurunya. Tempat kita sediakan, gaji kita yang bayar. Semua dananya kita yang talangi dulu. Murid hanya bayar uang kursus sebesar Rp150 ribu per bulan. Belajarnya tiga kali seminggu. Kalau dihitung gaji guru tentu tidak cukup. Tapi menurut pemikiran Pak H Muktamar, bagaimanapun ilmu ini harus tetap ada penerus. Karena kita kan tidak selamanya ada," katanya.

Untuk di Riau sendiri, saat ini rata-rata yang mengerjakan proyek kaligrafi sebagai kompetitor mereka adalah murid-murid H Muktamar sendiri. Tapi sayangnya, kata Nur Jalal, ketika mencari proyek mereka kerap membawa-bawa nama nama Pak Haji. Lalu harganya dimurahkan. Sayangnya kualitasnya jelek. "Akibatnya ketika suatu waktu pengurus masjid bertemu Pak Haji, mereka komplain. Pak Hajinya sendiri juga terkejut, kapan, proyek yang mana? Lho itu bukan saya. Karena itu yang namanya proyek dengan kami, saya yang tangani langsung," bebernya.***

-------
Tulisan di atas merupakan kutipan dari laporan Purnimasari, Riau Pos, 28 September 2008, "Pembuat Kaligrafi Nur Jalal"

Infogue.com

Baca selengkapnya...

15 Oktober 2008

Mengapa Superhero Menolak Membantu Indonesia

Tadi aku baca humor politik yang menarik dari Ketawa.com. Di situ diuraikan alasan mengapa 11 superhero tidak mau membantu Indonesia. Di sini aku kutipkan dua alasan yang paling "cantik":

1) INVISIBLE GIRL (Susan Storm) menolak dengan alasan MINDER. Kemampuan menghilang yang dimilikinya masih jauh kalah dengan kemampuan menghilang orang-orang Indonesia. Berikut wawancara yang dilakukan dengan CNN SAYA SIH HANYA BISA MENGHILANGKAN DIRI SAYA SENDIRI. BANYAK ORANG DI INDONESIA YANG BUKAN HANYA BISA MENGHILANGKAN DIRI SENDIRI, MALAHAN HUTANG, ASSET-ASET NEGARA YANG PERNAH DIKUASAI, SAMPAI HUTANG-HUTANG KORUPSI PUN BISA DIHILANGKAN JUGA. JADI SAYA MINDER NIH.....

2) THE FLASH (Barry Allen) [pun] akhirnya menolak. BAYANGKAN AJA, UNTUK MENDAPATKAN TANDA TANGAN KTP AJA ORANG HARUS MENUNGGU BERHARI-HARI. ITU AJA MASIH SABAR. JADI KESIMPULAN SAYA, ORANG INDONESIA TIDAK MEMERLUKAN SEORANG SUPERHERO YANG MEMILIKI KEKUATAN BERUPA KECEPATAN. KECEPATAN TIDAK ADA ARTINYA BUAT BANGSA YANG ALON-ALON ASAL KELAKON.

Infogue.com

Baca selengkapnya...

cerita « WordPress.com

Koran Republika :: Dialog Jumat

BBCIndonesia.com - Laporan Mendalam

Home | About Me | Contact

Copyright © 2008 - M Shodiq Mustika

Header Image credit: adapted from Memoirs of a Geisha Wallpapers

  © 2009 True Story template by M Shodiq Mustika

Back to TOP